Mataram (Suara NTB) – Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mendapat sumbangan 40 alat tenun pasca kebakaran hebat yang meluluhlantakkan desa itu pada Sabtu, 22 Agustus 2026 lalu. 40 alat kerajinan tenun tersebut diberikan oleh Kementerian Pariwisata kepada para pengrajin yang alatnya turut terbakar beberapa waktu lalu.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, Sinta M. Iqbal, mengatakan Pemerintah Provinsi NTB merencanakan adanya sentra tenun di Kampung Adat Sade. Jadi, pengrajin di desa adat tersebut tidak lagi membuat kerajinan secara mandiri, tetapi dalam sentra yang akan dibuat Pemprov tersebut.
“Supaya mereka mengerjakan bersama, kemudian hasil kerjanya dijual di situ juga. Jadi sentra seperti yang ada di kabupaten lain,” ujarnya, Kamis, 3 September 2026.
Alat tenun itu diperkirakan akan sampai ke Kampung Adat Sade pada Oktober 2026 mendatang. Saat ini, Sinta mengaku pembuatan alat tenun itu masih dalam proses pembuatan sebelum diberikan kepada masyarakat.
“Prioritas kita adalah korban yang tinggal dan korban dari kebakaran. Karena mereka mencari nafkah dari menenun kan,” lanjutnya.
Untuk mengembalikan roda ekonomi pengrajin tenun di Kampung Adat Sade, Dinas Pariwisata NTB juga berencana meningkatkan hasil tenun dengan menyematkan motif Sade yang bertujuan untuk mengangkat kain tenun dari desa adat tersebut. Hal ini karena selama ini beberapa kain tenun Sade dinilai belum begitu dikenal masyarakat luas.
Sementara, untuk alatnya sendiri, Istri Gubernur Iqbal itu mengaku tidak akan ada pembaruan alat sama sekali. Tenun yang akan diberikan oleh Kemenpar itu persis seperti tenun yang biasa digunakan oleh penenun di kampung tersebut.
“Gedogan seperti pada umumnya karena mereka juga sudah terbiasa dengan begitu. Tinggal hasilnya kita perbaiki lagi. Dan memastikan bahwa yang mereka jual itu adalah tenun yang mereka kerjakan,” katanya.
Selain alat tenun, perajin di Kampung Adat Sade juga diberikan bahan menenun termasuk dengan benang yang menjadi bahan utama. Dengan adanya bantuan ini, Sinta berharap seiring berjalannya waktu para penenun bisa kembali mandiri.
Selain membangun sentra tenun, Pemprov NTB juga akan membangun Museum Sade dengan konsep Jejak Kehidupan warisan dan identitas Sade. Pembangunan Museum Sade diutamakan karena untuk pembangunan rumah adat masih harus menunggu desain kampung adat selesai disusun terlebih dahulu.
Di samping itu, Museum Sade didahulukan dengan harapan bisa menjadi destinasi wisata saat ajang MotoGP Mandalika nantinya. Karena itu, proses pembangunannya ditargetkan selesai sebelum ajang MotoGP Mandalika berlangsung. Jadi para penonton MotoGP yang ingin berwisata ke Kampung Adat Sade bisa mengunjungi Museum Sade.
Pasalnya, begitu proses rekonstruksi dimulai area Kampung Adat Sade akan ditutup di bagian samping kiri dan kanan serta depan. Jadi wisatawan tidak akan bisa leluasan masuk ke area Kampung Adat Sade yang sudah habis terbakar. Mereka yang masuk akan dibatasi. Ini untuk memastikan proses rekonstruksi bisa berjalan dengan aman. (era)



