Giri Menang (Suara NTB) – Dinas Pertanian Lombok Barat (Distan Lobar) berupaya menyelamatkan ratusan hektare lahan pertanian milik petani yang terancam gagal panen akibat kekeringan. Pihak Dinas mengerahkan barikade pangan membantu petani yang lahannya terdampak kekeringan.
Selain itu, pihak Distan Lobar berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengalirkan air irigasi bendungan ke lahan pertanian petani. Sekretaris Dinas Pertanian Lobar, Muhammad Taufik, S.P., M.Ling., mengatakan, seharusnya dampak kekeringan terhadap petani terutama di wilayah Tempos dan sekitarnya tidak terlalu besar.
Hanya saja luasan yang terdampak cukup besar hingga 150 hektare karena dipicu gangguan daerah irigasi (DI) Bendungan Pengga. DI Pengga menuju daerah itu mengalami jebol, sehingga tidak bisa mengalirkan air ke wilayah itu.
“Sehingga kami mengambil langkah cepat berkoordinasi dengan BWS, karena itu (proyek di sana) kewenangan BBWS. Sehingga dari BBWS kemarin mengambil supla air dari saluran Pesongoran untuk disuplai ke wilayah itu,” sebut Taufik, Kamis (3/9/2026).
Di saluran Pesongoran itu juga diakui ada beberapa titik yang terkendala dan itu sudah diperbaiki. Hingga Rabu (2/9/2026) sore, informasi dari BBWS, airnya sudah bisa disuplai ke Tempos pada Kamis (3/9/2026). “Sehingga kekhawatiran kita lahan yang terancam gagal panen seluas 150 hektare insyaallah bisa tertangani,” ujarnya.
Selain itu pihaknya telah memberikan bantuan berupa pompa 3 inch kepada petani di beberapa lokasi yang memiliki sumber air untuk bisa disedot. Pihaknya melakukan pompanisasi menggunakan pompa ke areal pertanian petani. Dibantu juga oleh BPBD untuk memberikan bantuan pompa kepada petani.
Ada juga bantuan dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Provinsi NTB untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen akibat kekeringan di beberapa wilayah di Lobar.
“Solusi ini sudah ada, kekhawatiran petani kita terdampak gagal panen mudah-mudahan bisa kita hindari,” harapnya.
Dengan adanya suplai dari saluran pesongoran dan bantuan pompa ke petani diharapkan bisa mencegah terjadinya gagal panen tersebut. Sebab sejauh ini beberapa petani melaporkan ancaman gagal panen itu ke PPL kemudian dilaporkan oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ke dinas.
Pihaknya selanjutnya menindaklanjuti bkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Provinsi, OPD terkait hingga Balai Wilayah Sungai (BWS). Pihaknya meminta BBWS segera menyuplai air ke areal pertanian terdampak kekeringan tersebut. “Dan petugas BWS pun sudah turun ke lokasi,” imbuhnya. (her)



