BerandaBIMASejumlah Desa di Bima Alami Krisis Air

Sejumlah Desa di Bima Alami Krisis Air

- Advertisement -

Bima (Suara NTB) – Kekeringan mulai berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah desa di Kabupaten Bima. Air bersih mulai didistribusikan kepada warga yang terdampak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Abdul Muis mengatakan kondisi kekeringan tersebut mulai membutuhkan penanganan, karena ketersediaan air warga semakin terbatas. Pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.

“Penyaluran bantuan air bersih dilakukan untuk masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih akibat kekeringan dan cuaca panas saat musim kemarau,” ujarnya, Rabu (2/9).

Dikatakan, sebanyak 10.000 liter air bersih atau dua rit telah disalurkan ke RT 001 dan RT 002 Desa Waduwani. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 135 KK atau 427 jiwa yang mengalami kesulitan air bersih.

Di Kecamatan Bolo, bantuan air bersih juga disalurkan ke Dusun Muku, Desa Sanolo, sebanyak 5.000 liter atau satu rit. Bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan 41 KK atau 122 jiwa. Dengan demikian, sejumlah 549 jiwa di dua desa telah menerima bantuan air bersih akibat kesulitan air selama musim kemarau.

Abdul Muis mengatakan penyaluran air bersih dilakukan sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat di wilayah yang mulai mengalami kekurangan air. BPBD juga terus memantau perkembangan kekeringan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan.

“Air bersih terus kami salurkan ke wilayah yang masyarakatnya sudah mengalami kesulitan air. Penanganan disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” katanya.

Selain Waduwani dan Sanolo, kekeringan mulai dirasakan di sebagian wilayah Desa Nata dan Bre, Kecamatan Palibelo. Sumber air di sejumlah lokasi di dua desa tersebut, dilaporkan mulai tidak ada.

Kondisi tersebut menunjukkan ancaman kekeringan yang sebelumnya dipetakan BPBD mulai berkembang menjadi persoalan ketersediaan air bersih di lapangan. Sebelumnya, BPBD memetakan 43 desa di 15 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan dengan estimasi 8.665 KK atau 27.343 jiwa.

Pihaknya mencatat kebutuhan mendesak di wilayah terdampak saat ini adalah tandon. Sarana tersebut dibutuhkan untuk menampung air yang disalurkan kepada masyarakat.

“Kebutuhan yang mendesak saat ini adalah tandon,” sebutnya

Ia mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien selama musim kemarau. Penanganan juga akan terus dikoordinasikan dengan pemerintah desa dan perangkat daerah terkait sesuai perkembangan kondisi di lapangan. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO