Tanjung (Suara NTB) – Animo masyarakat yang mengakses program Subsidi Bunga Pinjaman di Kabupaten Lombok Utara (KLU), tergolong tinggi. Masyarakat, khususnya di kelompok tani ternak mencatatkan realisasi 100 persen dari pagu yang disiapkan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan KLU, Tresnahadi, S.Pt., Jumat (4/9/2026) mengungkapkan, tingginya animo pemohon program subsidi bunga pinjaman di tingkat kelompok tani ternak tak hanya terlihat dari capaian realisasi. Animo tersebut juga tampak dari adanya antrean baik individu maupun kelompok yang mengakses program subsidi bunga untuk pembiayaan usaha sektor pertanian, sub sektor peternakan dan perikanan.
“Realisasi di Bank NTB Syariah Cabang Tanjung, setiap tahun itu mencapai 100 persen. Berapa pun pagu yang disiapkan, selalu habis disalurkan,” ujarnya.
Tresnahadi menyebut pagu anggaran subsidi bunga kepada KTT di lima kecamatan mengalami fluktuasi. Sejak awal program diluncurkan tahun 2022, pagu untuk masyarakat melalui verifikasi Dinas Ketahanan Pangan sebesar Rp750 juta. Jumlah ini meningkat pada tahun 2023 sebesar Rp1 miliar, tahun 2024 sebesar Rp1,5 miliar, tahun 2025 dan tahun 2026 masing-masing sebesar Rp1 miliar.
Seluruh pagu tersebut diakses oleh masyarakat baik individu maupun kelompok. Setiap individu dapat mengajukan jumlah pinjaman masing-masing Rp25 juta untuk tenor pinjaman satu tahun.
Selain individu, masyarakat petani dan peternak juga dapat mengakses secara kolektif melalui Kelompok Tani Ternak dengan jumlah anggota paling sedikit 10 orang. Artinya, setiap kelompok dapat mengklaim pinjaman mencapai Rp250 juta.
Tresnahadi menyampaikan, dengan pagu sebesar Rp1 miliar, sangat membantu perkembangan usaha masyarakat baik yang bergerak di hortikultura maupun budi daya ternak. Diperkirakannya, apabila Pemda menambah alokasi lebih besar lagi, masyarakat akan memanfaatkan pinjaman ini secara optimal. Pasalnya, ketika anggaran ditambah menjadi Rp1,5 miliar, pagu tersebut diserap seluruhnya oleh masyarakat.
“Alhamdulillah selama ini pengembalian pokok bunga pinjaman di Bank NTB Syariah itu sangat lancar, tidak ada kredit macet selama empat tahun ini. Dan kita juga realisasi subsidi bunga kita yang kita bayarkan ke Bank NTB Syariah itu setiap tahun selalu 100 persen, tidak ada SiLPA-nya,” jelas Tresnahadi.
Ia menambahkan, realisasi 100 persen ini sebagai salah satu indikator bahwa program subsidi bunga sangat diminati oleh masyarakat.
“Bahkan informasi dari Pak Direktur Bank NTB Syariah Tanjung, banyak sekali masyarakat yang antre, sehingga tidak bisa di-cover seluruhnya dengan program ini,” sambungnya.
Tresnahadi tak membantah, pihak Bank NTB Syariah meminta tambahan alokasi subsidi bunga minimal tiap tahunnya sebesar Rp1,5 miliar. Salah satu alasannya banyak sekali masyarakat yang mengajukan permohonan, dan tidak semuanya bisa diakomodir.
“Karena memang anggaran untuk membayar subsidi bunga ini hanya Rp1 miliar, karena itu, mereka meminta tambahan tahun depan sebanyak Rp1,5 miliar. Mudah-mudahan TAPD nanti bisa memberikan tambahan anggaran,” tandasnya. (ari)



