Giri Menang (Suara NTB) – Abrasi dan longsor bantaran Sungai Beluk, Kelurahan Gerung Selatan, Lombok Barat (Lobar) akhirnya ditangani. Penanganan dilakukan Pemprov NTB melalui program Aspirasi DPRD NTB Dapil Lobar-KLU, Hj. Nanik Zaini Arony.
Beronjong dan talud dipasang sepanjang 20 meter di lokasi yang mengalami abrasi parah hingga merusak rumah penduduk setempat. Ketua RT 07 Seganteng, Ulul Azmi, menyampaikan bahwa pengerjaan beronjong dan talud sungai dimulai hampir beberapa minggu lalu dari bantuan Pemprov NTB melalui aspirasi DPRD NTB. “Panjangnya sekitar 20 meter dan tinggi 7 meter,” katanya, Jumat (4/9/2026).
Lokasi yang ditangani ini telah lama dikeluhkan warga, karena mengalami longsor sejak setahun lalu. Dengan pentaludan abrasi ini, warga merasa sedikit tenang tidak lagi terlalu was-was atau takut ketika nanti hujan turun. Penanganan abrasi ini tak lepas dari koordinasi dari kelurahan dan lingkungan yang mengajukan ke sejumlah pihak. Tetapi pihaknya berharap pada Pemkab agar menangani abriasi di beberapa titik yang belum ditangani.
Terdapat 28 KK warga Seganteng yang tinggal di sepanjang bantaran sungai tersebut. Tetapi yang kondisinya lumayan parah sekitar delapan KK atau rumah. “Yang sudah ditangani sekitar 4 KK,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Lingkungan Dodokan, Suharman. Ia menyebut, bantaran Sungai Beluk yang butuh penanganan sekitar 200 meter lebih. Bahkan di beberapa titik rumah warga ambruk akibat abriasi tersebut. “Sekitar 3-4 rumah warga sudah ambruk,” imbuhnya.
Sebagian abrasi sungai tersebut telah ditangani, melalui program pokir DPRD dari fraksi partai Gerindra. Tetapi masih banyak lokasi abrasi lain yang butuh penanganan mendadak. Untuk itu, pihaknya berharap agar pemerintah segera menangani beronjong dan talud sungai tersebut untuk mencegah dampak yang lebih parah lagi. “Supaya jangan ada korban dulu, baru ditangani,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Gerung Selatan Akhwan Mashudi menyampaikan bahwa Sungai Beluk yang mengalami abrasi akibat arus sungai yang deras setiap musim hujan menjadi keluhan tiap tahun warganya. Pihaknya pun berupaya berkoordinasi dan berkomunikasi dengan sejumlah pihak untuk penanganan. Pengerjaan di lapangan sudah mencapai sekitar 60 persen untuk beronjong. Kemudian nanti dilanjutkan pentaludan sekitar 1,20 meter.
Pentaludan akan dilakukan pada hari Minggu depan ini. Sehingga ditarget sebelum musim hujan tiba, pengerjaan talud dan beronjong sungai ini sudah selesai. Sedangkan untuk penanganan abrasi yang belum ditangani, diupayakan dilanjutkan tahun depan dari program Rp1 miliar per desa. Ia berharap dengan penanganan ini, bisa mengobati perasaan warga yang merasa takut karena air sungai itu sungai yang sewaktu-waktu meluap karena hujan. (her)



