BerandaBIMABeras SPHP Dikeluhkan Berkutu

Beras SPHP Dikeluhkan Berkutu

Bima (Suara NTB) – Kualitas beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang beredar di Kabupaten Bima dikeluhkan pedagang. Beras disebut berwarna kekuningan, berbau hingga ditemukan kutu kecil. Kondisi tersebut dikaitakan dengan kebijakan penyerapan gabah any quality.

Keluhan itu disampaikan salah satu mitra Bulog, Nurhaidah di hadapan Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Rachmad Firdaus, Kepala Cabang Bulog Bima Alfan Ghazali, dan sejumlah dinas terkait saat pemantauan pangan bersama di Pasar Tente, Kabupaten Bima, Senin (7/9).

Menurut Nurhaidah, kualitas beras SPHP yang diterimanya saat ini berbeda dibandingkan dengan beras yang dijualnya dalam dua tahun terakhir.

“Beras SPHP yang sekarang itu ada yang berwarna kekuningan. Terus ada baunya dan ada kutu-kutu kecil,” kata Nurhaidah.

Kondisi tersebut, kata dia, berdampak langsung kepada pedagang karena sebagian konsumen mengembalikan beras yang telah dibeli. Untuk menghindari kerugian, pedagang bahkan harus mencampur beras SPHP dengan beras lokal. Kondisi itu juga disebut membuat minat masyarakat terhadap beras SPHP menurun.

Kepala Bulog Cabang Bima, Alfan Ghazali mengakui saat ini terdapat beras SPHP yang kondisinya kuning dan berkutu. Salah satu faktor yang memengaruhi kualitas tersebut, adalah kebijakan any quality dalam penyerapan gabah. Kebijakan itu membuat Bulog tetap menyerap gabah dengan kondisi tertentu yang sebelumnya memiliki standar lebih ketat.

“Sekarang ada kebijakan any quality. Karena kebijakan itu, teman-teman mitra dalam mencapai rendemen yang sudah ditentukan memang kualitasnya agak berkurang,” jelasnya.

Ia menerangkan, kebijakan tersebut juga berkaitan dengan kondisi gabah petani. Gabah yang mengalami persoalan saat panen tetap diarahkan untuk dapat diserap Bulog.

Salah satunya ketika gabah mengalami kerusakan akibat kondisi cuaca atau terendam banjir. Bulog tetap menerima gabah tersebut sebagai bagian dari kebijakan penyerapan pemerintah. “Kalau gabah kering panen (GKP), ketika ada panen yang gagal atau gabah yang terendam banjir, masyarakat meminta agar tetap diserap Bulog,” ujarnya.

Dalam proses pengolahan, kondisi gabah tersebut kemudian dapat memengaruhi kualitas beras yang dihasilkan. Alfan menjelaskan, gabah yang terlambat dikeringkan juga dapat berubah warna meskipun bentuk bulirnya masih relatif utuh.

Di sisi lain, pedagang berharap kualitas beras SPHP tetap diperhatikan karena berhubungan langsung dengan penerimaan konsumen.

“Kadang pelanggan datang mengembalikan berasnya karena katanya ada kutu, warnanya kuning, dan berbau,” pungkas Nurhaidah. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN










VIDEO