BerandaNTBLOMBOK BARATDamkarmat Lobar Berjibaku Padamkan Kebakaran, 20 Hektare Lahan dan Hutan Terdampak Kebakaran

Damkarmat Lobar Berjibaku Padamkan Kebakaran, 20 Hektare Lahan dan Hutan Terdampak Kebakaran

Giri Menang (Suara NTB) – Selama musim kemarau, fenomena kebakaran lahan cukup tinggi terjadi di Lombok Barat (Lobar). Pada periode Juli hingga awal September 2026, sebanyak 32 kasus kebakaran lahan di hampir semua wilayah di Lobar ditangani Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lombok Barat.

Kebakaran menimpa lahan perbukitan maupun hutan hingga lahan pertanian yang mencapai puluhan hektare. Bahkan, kejadian terluas terjadi di lahan sekitar Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek, Kediri, yang mencapai 10 hektare lebih pada Selasa (8/9).

“Memang intensitasnya jauh meningkat jika kita bandingkan dengan triwulan satu (Januari–Maret) yang cuma 13 kasus kebakaran dan triwulan kedua (April–Juni) yang hanya 19 kasus kebakaran dan kebakaran lahan hanya satu kasus,” terang Kepala Dinas Damkar Lobar, H. Suherman, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (9/9).

Menurutnya, pada bulan Juli saja terjadi 29 kasus kebakaran yang terdiri atas 10 kebakaran lahan, lima kasus kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah (TPS), dan sisanya kebakaran rumah, toko, hingga kendaraan. Kasus itu, kata Suherman, semakin meningkat memasuki bulan Agustus dengan 22 kasus kebakaran lahan yang terjadi selama sebulan.

“Sampai seminggu saja 10 kasus kebakaran kita tangani. Bahkan, sehari itu ada 4 kebakaran lahan, seperti saat kejadian kebakaran lahan perbukitan Loco Senggigi dan di lahan di Dopang, Gunung Sari (Bukit Korea) itu bersamaan kejadian kebakarannya,” beber Suherman.

Selain itu, kejadian kebakaran juga menimpa kawasan hutan Suranadi kecamatan Narmada. Luas areal yang terdampak kebakaran itu, rata-rata setengah hektar hingga hingga satu hektar. Sehingga kalau ditotal dari 22 kasus kebakaran itu diperkirakan 20 hektare lebih yang terdampak kebakaran.

“Ya sekitar 20 hektare lebih, di lahan RPH itu saja sekitar 10 hektare,” sebutnya.

Memastikan respons cepat penanganan kebakaran, pihaknya memberlakukan kebijakan agar setiap petugas tetap siaga, baik yang sif piket berjaga maupun yang lepas tugas. Sehingga, ketika ada kejadian, penanganan langsung bisa dilakukan dan kebakaran tidak meluas.

“Harus tetap siaga dengan cara tidak boleh mematikan HP (handphone), baik yang piket maupun yang off (lepas piket). Karena itu bagian antisipasi kita menjaga kejadian tidak lebih besar, lebih baik kita tangani di saat kondisi tidak parah. Supaya tidak terjadi kebakaran yang luas di Lobar,” jelasnya.

Tingginya tingkat kebakaran lahan ini diduga akibat kelalaian masyarakat. Sebab, kebiasaan membakar sampah tanpa ditunggu dan membuang puntung rokok sembarangan menjadi pemicu kebakaran itu. Diperparah dengan kondisi fenomena El Nino yang mengeringkan tumbuhan dan lahan tandus, hal itu membuat kebakaran cepat terjadi.

“Warga kita itu kadang-kadang tidak sadar asal sembarangan buang puntung rokok, terus bakar sampah tidak ditunggu,” keluhnya.

Bahkan, diungkapkannya, indikasi penyebab kebakaran lahan karena kebiasaan membuang puntung rokok yang masih menyala secara sembarangan ditemukan saat kebakaran lahan di RPH Banyumulek. Titik api muncul dari tengah lahan seluas sepuluh hektare itu.

Kebiasaan buruk itu sering kali diingatkan pihak Damkar kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang memicu terjadinya potensi kebakaran. Bahkan, sosialisasi dan imbauan terus dilakukan Damkar Lobar melalui pamflet hingga media sosial.

“Melalui kepala desa sampai camat juga kita minta melakukan imbauan kepada masyarakat kita untuk jangan membakar sampah lalu ditinggal. Jangan sampai api sudah besar dan kebakaran, baru telepon Damkar,” imbaunya.

Meski tidak dipungkiri, lima unit armada mobil damkar yang dimiliki saat ini masih belum memenuhi ideal cakupan luas wilayah daerah Lobar. Namun, keterbatasan itu tidak menjadi alasan, pihaknya tetap merespons cepat penanganan kasus kebakaran yang terjadi.

Langkah siap siaga itu menjadi salah satu cara Damkar Lobar untuk menutupi sementara kekurangan armada tersebut.

“Kalau melihat rasio luas wilayah memang masih kurang, karena kita punya satu unit di UPT, dan di Mabes (Markas Besar) ada empat unit. Kalau rasio penduduk dan wilayah itu minimal satu kecamatan satu unit mobil damkar, tetapi langkah kita di Lobar akan membentuk tiga UPT untuk penanganan berzona: wilayah utara, tengah, dan selatan,” pungkasnya. (her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO