Kota Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kota Bima menetapkan status siaga bencana kekeringan akibat meningkatnya kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah. Berdasarkan data sejumlah 2.866 kepala keluarga (KK) atau 9.453 jiwa di 16 kelurahan terdampak kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima, Nazamuddin, S.Sos., mengatakan kondisi saat ini belum separah kekeringan tahun-tahun sebelumnya. Namun, pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi.
“Masih dalam status siaga bencana sekarang,” kata Nazamuddin saat diwawancarai pada, Selasa (15/9).
Berdasarkan data wilayah terdampak tersebar di lima kecamatan, yakni Rasanae Barat, Mpunda, Raba, Asakota dan Rasanae Timur. Kelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat, menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling banyak mencapai 715 kepala keluarga atau 2.845 jiwa.
Nazamuddin mengatakan penanganan dilakukan dengan memperkuat distribusi air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. BPBD berkoordinasi dengan sejumlah pihak mulai dari Dinas Sosial, Bagian Umum Setda Kota Bima, Bank NTB, Kepolisian, PMI hingga BWS NT 1.
Sejumlah kelurahan yang selama ini menjadi kantong kekurangan air mendapat perhatian, di antaranya Desa Dara, Tanjung, Melayu, Nae dan Pane.
Distribusi air dilakukan berdasarkan permintaan. Ketika ada laporan dari lurah, lembaga terkait maupun masyarakat, BPBD segera mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan pelayanan.
“Begitu kami dikontak, kami segera melakukan koordinasi dengan tim TRC yang memang sudah mempersiapkan armada untuk melakukan pelayanan di beberapa wilayah yang kekurangan air,” ujarnya.
Setiap tangki memiliki kapasitas 6.000 liter. Dalam sehari, pelayanan dapat mencapai sekitar enam hingga tujuh tangki, tergantung kebutuhan dan permintaan masyarakat.
Namun, pelayanan tersebut masih menghadapi keterbatasan. Data BPBD mencatat mobil tangki yang dimiliki dalam kondisi rusak berat, sehingga distribusi air juga mengandalkan dukungan armada dari instansi dan lembaga lain.
Selain distribusi air, penanganan dilakukan dengan mencari sumber air alternatif. Kepolisian membantu penggalian sumur bor dangkal di sejumlah titik, salah satunya di Kelurahan Dara melalui Polsek Rasanae.
Nazamuddin menyebut progres sumur tersebut telah mencapai sekitar 90 persen. BPBD juga mendorong penambahan tandon penampungan agar masyarakat dapat mengambil air dengan lebih mudah. “Minimal untuk masak dan kebutuhan dapur bisa dipenuhi,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih selama puncak kemarau. Selain itu, diminta segera melaporkan apabila mengalami kesulitan memperoleh air agar distribusi dapat dilakukan lebih cepat. (hir)



