BerandaEKONOMICek-cok Antar Angkutan Wisatawan di Kawasan Mandalika Kembali Mencuat

Cek-cok Antar Angkutan Wisatawan di Kawasan Mandalika Kembali Mencuat

Mataram (Suara NTB) – Peristiwa cek-cok antara pengemudi Lombok Taksi dengan oknum yang diduga terkait travel lokal terjadi kembali, Minggu, 13 September 2026 di Kawasan Mandalika, Lombok Tengah. Peristiwa ini pun ramai di media sosial.


Perselisihan itu melibatkan pengemudi Lombok Taksi/Bluebird dengan sejumlah orang yang diduga bagian dari penyedia jasa travel lokal.
Pengemudi Lombok Taksi/Bluebird, Hasyim Asy’ari atau Ari, menceritakan, peristiwa tersebut terjadi saat mendapat pesanan melalui aplikasi MyBluebird pada Minggu sore sekitar pukul 16.00 WITA.


Saat itu, Ari mendapat pesanan untuk menjemput wisatawan asing di sekitar kawasan Patung Surfing, Kuta. Untuk menghindari persoalan, ia bahkan meminta penumpang menunggu di luar area hotel.


Namun, ketika dua wisatawan asing hendak masuk ke taksi, terjadi perselisihan dengan seorang pria yang menurut Ari melarang taksi membawa penumpang tersebut. Ari menyebut situasi kemudian membuat wisatawan merasa khawatir. Penumpang akhirnya memilih menggunakan transportasi lokal dan membatalkan perjalanan menggunakan taksi.


“Intinya dia bilang kepada tamu, kalau naik saya jalan, saya pukul drivernya. Kalau jalan, saya bunuh drivernya,” kata Ari, menirukan ucapan orang yang menghadangnya.


Ari mengaku memilih tidak memperpanjang persoalan karena mempertimbangkan kondisi wisatawan dan situasi di lokasi.


Kejadian serupa bukan kali pertama dialami pengemudi taksi. Pengalaman lain disampaikan Ridwan, rekan Ari. Sekitar dua bulan lalu, Ridwan mengaku mengalami perselisihan ketika mendapat pesanan dari seorang tamu di Hotel Novotel saat berlangsungnya sebuah kegiatan di kawasan Mandalika.


Ridwan mengatakan dirinya diminta meninggalkan area hotel oleh sejumlah orang yang diduga bagian dari travel lokal. Setelah keluar dari area hotel, ia mengaku intimidasi secara fisik dan psikis.


“Sampai di luar langsung dipukul. Saya dipukul tiga kali sampai hidung berdarah,” ujar Ridwan.


Peristiwa tersebut, menurut Ridwan, telah dilaporkan ke Polsek Kuta.
Para pengemudi taksi menilai persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui komunikasi dan kejelasan aturan agar tidak berulang.


“Kalau memang ada aturan khusus di kawasan, kami berharap bisa dijelaskan secara terbuka. Kami ingin tahu dasar aturannya dan bagaimana penerapannya,” katanya.


Para pengemudi berharap persoalan transportasi di kawasan Mandalika dapat dibicarakan bersama antara pelaku usaha transportasi, pemerintah daerah, serta aparat terkait.


Menurut mereka, kejelasan aturan tidak hanya penting bagi pengemudi dan pelaku usaha transportasi, tetapi juga untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan yang berkunjung ke Mandalika. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO