Praya (Suara NTB) – Sebanyak 192 Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang juga kepala dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) dikumpulkan di kantor Bupati Loteng, Rabu (16/9). Mereka dikumpulkan pascakasus dugaan keracunan MBG yang dialami ratusan siswa di lima sekolah di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah pekan kemarin.
Selain untuk mendapat pengarahan, pada kesempatan itu para SPPI juga membuat komitmen bersama untuk lebih intens mengawal dan mengawasi jalannya program MBG di Loteng. Hal ini guna mencegah dan mengantisipasi terjadinya kasus-kasus yang tidak diinginkan dalam program MBG, khususnya di Loteng.
Sekretaris Daerah (Sekda) Loteng, H. Lalu Firman Wijaya, S.T.,M.T., di hadapan SPPI yang hadir, meminta supaya kualitas dan keamanan menu MBG di Loteng terus ditingkatkan. Dalam hal ini, SPPI diharapkan harus bisa mengambil peran yang lebih besar lagi untuk memastikan menu MBG yang disajikan kepada penerima program benar-benar layak. Baik itu dari sisi kualitas gizinya maupun kualitas keamanan makanannya.
Dengan begitu, program MBG bisa benar-benar memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Terutama dalam hal peningkatan kualitas gizi masyarakat di Loteng.
“Perkuat quality control-nya. Jangan lalai, pastikan menu MBG yang disajikan kepada penerima program tidak hanya bergizi, tetapi juga aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Diakuinya, tugas tersebut memang tidak mudah, tetapi karena sudah memilih peran sebagai SPPI, maka tugas tersebut harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Apalagi ini menyangkut pemenuhan gizi yang tentunya akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk generasi yang akan datang.
Firman menambahkan, program MBG di Loteng secara efektif baru berjalan sekitar sembilan bulan. Dalam rentang waktu tersebut sudah ada setidaknya enam kasus dugaan keracunan yang terjadi. Artinya, setiap satu bulan setengah, ada satu kasus dugaan keracunan yang terjadi di Loteng. Menurutnya jumlah itu sudah terlalu banyak.
Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap program MBG mengalami penurunan cukup drastis. Bahkan muncul stigma di masyarakat kalau ada makanan yang kurang menu dan gizinya selalu dikonotasinya dengan menu MBG.
Maka peran SPPI dalam hal ini sangat diharapkan untuk bisa mengangkat kembali kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Bahwa program MBG adalah program yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Satu-satunya cara ialah dengan meningkatkan kualitas menu MBG itu sendiri. Tidaknya hanya kualitas gizi, tetapi juga kualitas keamanan menu makanannya.
Firman menegaskan, program MBG saat ini bukan hanya bicara soal gizi semata. Namun, juga soal kepercayaan masyarakat. Maka upaya-upaya untuk me-rebranding program MBG harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar kepercayaan masyarakat kepada program MBG bisa kembali tumbuh.
“Kuncinya, tingkatkan kewaspadaan, ketelitian dan kehati-hatian. Jangan lalai, meski harus bekerja saat tengah malam. Pastikan keamanan menu MBG terjaga. Supaya kedepan kasus-kasus yang berkaitan dengan MBG di Loteng bisa nol,” tegas Ketua Satgas MBG Loteng ini.
Penyebab Keracunan Belum Diketahui
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng dr. Mamang Bagiansah yang dikonfirmasi Suara NTB secara terpisah terkait penyebab dugaan keracunan ratusan siswa mengatakan sampai saat ini hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan serta muntahan siswa belum keluar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mataram.
Dengan begitu, penyebab siswa diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu MBG akhir pekan kemarin, belum bisa dipastikan. “Nanti kalau sudah ada hasilnya, kita akan ekspose,” sebutnya.
Dalam hal ini, pihaknya tidak mau berspekulasi soal penyebab ratusan siswa diduga mengalami keracunan MBG tersebut Sampai hasil uji laboratorium keluar. “Jadi kita tunggu saja hasil pemeriksaan oleh BPOM,” tegas Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Praya ini. (kir)



