BerandaNTBKOTA MATARAMJangan Jadikan Anak-anak ‘’Kelinci Percobaan’’

Jangan Jadikan Anak-anak ‘’Kelinci Percobaan’’

SEKRETARIS Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul masih munculnya kasus keracunan makanan yang dialami sejumlah anak di berbagai daerah di Indonesia.

Nyayu menegaskan, makanan yang diberikan kepada anak-anak harus diperlakukan sama seperti makanan yang disiapkan untuk anak maupun anggota keluarga sendiri. Karena itu, menurutnya, proses penyediaan MBG harus diawasi sejak pemilihan bahan hingga makanan tersebut dikonsumsi.

“Dari awal pemilihan bahan harus jelas, bahannya harus berkualitas. Pengolahannya sesuai atau tidak, kemudian IPAL-nya seperti apa,” ujar Nyayu kepada Suara NTB di Mataram, Selasa (15/9).

Ia mengingatkan, pengelolaan air limbah yang tidak sesuai standar dapat menimbulkan risiko kontaminasi bakteri. Selain itu, kesehatan para pekerja yang terlibat dalam pengolahan makanan juga harus diperiksa secara berkala.

Menurutnya, aspek penting lainnya adalah keterlibatan tenaga ahli gizi yang memiliki kompetensi dan dokumen akreditasi sesuai ketentuan. Hal tersebut dinilai penting agar program MBG tidak menjadikan anak-anak sebagai objek percobaan.

“Jangan anak kita jadi kelinci percobaan. Sudah sedemikian banyak anak-anak kita yang keracunan,” tegasnya.

Politisi PDI Perjuangan ini menilai kasus keracunan makanan dalam program MBG yang terjadi di sejumlah daerah harus menjadi evaluasi serius pemerintah. Ia khawatir persoalan tersebut berdampak terhadap kesehatan dan masa depan anak-anak yang seharusnya dipersiapkan sebagai generasi penerus bangsa.

“Katanya kita ingin mencetak generasi emas. Bagaimana caranya mencetak kalau sedikit-sedikit keracunan?” katanya.

Ia juga mempertanyakan efektivitas program apabila makanan yang diberikan justru tidak dapat dikonsumsi atau berakhir dibuang. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan anggaran yang besar untuk program tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi anak.

Nyayu bahkan mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan alternatif pemberian bantuan langsung kepada orang tua, sehingga kebutuhan makanan bergizi anak dapat dipenuhi keluarga dengan lebih terkontrol.

Di sisi lain, ia menilai masih banyak kebutuhan pendidikan yang juga membutuhkan perhatian, mulai dari buku, peningkatan kompetensi hingga perbaikan sekolah dan fasilitas sanitasi.

“Masih banyak sekali kebutuhan pendidikan. Belum lagi sekolah rusak dan toilet yang tidak layak. Ini juga harus menjadi perhatian,” pungkasnya. (fit)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO