BerandaPENDIDIKANPengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah di Kota Mataram Hadapi Sejumlah Kendala

Pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah di Kota Mataram Hadapi Sejumlah Kendala

Mataram (Suara NTB) — Tim Pelindungan Balai Bahasa Provinsi NTB melaksanakan kegiatan Pemantauan Pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah oleh Guru Master di Kota Mataram, pada Kamis (17/9). Pada kesempatan itu, tim mengambil satu sampel SD dan SMP, yaitu SDN 22 Mataram dan SMPN 7 Mataram.

Pemantauan dilakukan untuk melihat pelaksanaan pengimbasan pembelajaran bahasa daerah di sekolah, termasuk kesiapan guru utama dalam menerapkan dan menyebarluaskan materi pembelajaran kepada guru dan siswa.

Di SDN 22 Mataram, tim pemantauan berdiskusi dengan Jepri Nur, selaku atau guru master terkait pelaksanaan pembelajaran bahasa daerah. Berdasarkan hasil pemantauan, pengimbasan pembelajaran bahasa daerah masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam pelaksanaan dan pengembangan pembelajaran di sekolah. Ternyata, guru yang diutus merupakan guru mata pelajaran olahraga.

Hal tersebut mengakibatkan belum maksimalnya pengimbasan. Kesalahan ini langsung ditelusuri oleh tim ke Dinas Pendidikan Kota Mataram agar kejadian serupa tidak berulang.

Tim meneruskan pemantauan ke SMPN 7 Mataram. Guru master dan Waka Kurikulum yang menyambut kedatangan tim menyampaikan berbagai kondisi dan kendala yang dihadapi dalam mengimbaskan materi pembelajaran bahasa daerah. Meskipun terdapat komitmen dari pihak sekolah untuk mendukung pembelajaran bahasa daerah, pelaksanaannya masih memerlukan penguatan, terutama dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Mataram.

Masalah utamanya terletak belum terintegrasinya jam mengajar muatan lokal bahasa daerah dengan dapodik sehingga jam mengajar guru tidak diakui.

“Sudah sejak 2022 kami berdiskusi dan menekan Dinas Pendidikan Kota Mataram terkait Mata Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Sasak. Namun, kendala kami di Kota Mataram memang belum tegasnya sikap pemerintah dalam melestarikan bahasa Sasak,” ungkap Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa NTB, Kasman saat menanggapinya.

Dari praktik pengimbasan yang dilakukan oleh guru master di kedua sekolah yang dipantau, tim mendapatkan gambaran terkait prosesnya. Untuk SDN 22 Mataram, karena guru masternya bukan guru bahasa Indonesia, proses pengimbasan tidak dapat berjalan maksimal atau ala kadarnya. Sementara itu, pengimbasan di SMPN 7 Mataram berjalan cukup baik di tengah berbagai kendala. Siswa terimbas pun dapat menampilkan praktik membaca puisi bahasa Sasak dengan cukup baik.

Dari sampel sekolah yang dipantau, Tim Pelindungan akan menyampaikan hasil temuan kepada Dinas Pendidikan Kota Mataram.

Selain pemantauan pengimbasan, Tim Pelindungan sekaligus menyosialisasikan Program Jemput Bola (Jempol) kepada guru dan siswa. Tim mengajak siswa untuk lebih mengenal kekayaan sastrawi NTB, khususnya cerita rakyat. Dalam sosialisasinya, Tim Pelindungan menggunakan dua cerita rakyat yang telah dialihwahanakan menjadi film animasi dan komik untuk mengenalkannya kepada generasi muda. Cerita yang dikenalkan adalah kisah Putri Mandalika dan Balang Kesimbar.

Siswa diajak menyaksikan kisah Putri Mandalika yang telah dialih wahana menjadi Putri Rabanga yang di Youtube. Setelahnya, siswa diajak membaca komik berjudul Mustika Cempaka sang Putri Raksasa di laman https://labbineka.kemendikdasmen.go.id/laman/komik. Kedua produk tersebut adalah hasil kerja Tim Pelindungan di pusat dan daerah yang dapat dinikmati oleh publik secara gratis. (ron)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO