Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa menerima alokasi pupuk bersubsidi sebesar 1.000 ton dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Jumlah pupuk diterima paling besar dibandingkan kabupaten/kota yang lain di Provinsi NTB.
“Sumbawa ini paling besar menerima alokasi pupuk 1.000 ton. Kalau kabupaten lain hanya 480 ton. Jadi ada 1.000 ton atau 1 juta kilogram yang bisa dimanfaatkan,” kata Direktur Prasarana dan Sarana Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP RI, Egar Sadtopo, Senin (28/9).
Pemberian pupuk bersubsidi tersebut merupakan salah satu peluang untuk meningkatkan produksi perikanan dan mendukung kesejahteraan pembudidaya ikan. Karena hasil pantauan data jumlah pembudidaya di kabupaten Sumbawa masih sangat sedikit. Egar menargetkan alokasi pupuk bersubsidi tersebut, dapat tersalurkan dan dimanfaatkan secara optimal oleh pembudidaya pada Oktober mendatang. Jika kebutuhan meningkat seiring peningkatan produksi, tambahan alokasi dapat diusulkan untuk tahun berikutnya.
“Pupuk bersubsidi memberikan manfaat besar bagi pembudidaya, termasuk pupuk Urea yang disubsidi dengan harga Rp1.800 per kilogram,sehingga masyarakat bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal,” tambahnya.
Bupati Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot mengapresiasi kehadiran pemerintah pusat di Kabupaten Sumbawa. Pemberian pupuk subsiudi merupakan dukungan serta komitmen pemerintah pusat dalam mendorong pengembangan sektor perikanan budidaya di daerah.
“Atas nama pemerintah saya menyampaikan terima kasih. Kehadiran Bapak Direktur menjadi bukti nyata komitmen pemerintah pusat untuk pengembangan budidaya perikanan di Sumbawa,” ujarnya.
Program pupuk bersubsidi ini menjadi kabar baik bagi para pembudidaya ikan. Bupati menekankan proses penebusan pupuk telah menggunakan sistem digital atau elektronik untuk mencegah penyalahgunaan serta memastikan pupuk diterima oleh pembudidaya yang telah terdata. Percepatan pendataan pembudidaya, khususnya di sejumlah wilayah pesisir yang belum masuk dalam data penerima harus segera dituntaskan.
“Jangan sampai kuota yang disiapkan tidak terserap karena data belum lengkap. Saya juga mengimbau para pembudidaya agar menggunakan pupuk sesuai dosis, efektif, serta tetap memperhatikan kelestarian lingkungan,” katanya mengingatkan. (ils)



