Tanjung (Suara NTB) – Komunitas Konservasi Penyu atau Turtle Conservation Community (TCC) Nipah, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU) merupakan satu di antara banyak organisasi relawan pemerhati ekologi laut di Indonesia. Selain melestarikan penyu, komunitas ini juga merehabilitasi terumbu karang melalui metode transplantasi, kendati usaha optimal tersebut masih terkendala terbatasnya sarana dan prasarana menyelam.
Sekretaris TCC Nipah, Iwan Suyadi, SE., M.Pd., pada Senin (28/9/2026) mengungkapkan, rehabilitasi terumbu karang terus digalakkan oleh relawan TCC Nipah. Lokasi yang dipilih adalah perairan laut seputaran Dusun Nipah, sekaligus sebagai upaya pemulihan habitat Penyu dan ekologi laut lainnya.
“Media yang kami gunakan berbentuk spider yang dibuat dari rangka besi. Metode ini relatif sederhana, tetapi membutuhkan monitoring selama proses rehabilitasi terumbu karang,” ujar Iwan.
Ia menjelaskan, TCC Nipah sudah melakukan transplantasi terumbu karang sejak tahun 2020 silam. Sampai tahun 2026, komunitas secara konsisten melakukan perluasan area rehabilitasi secara bertahap.
Sejak transplantasi dilakukan, pihaknya mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk BUMN. Pada tahun 2026 ini pun, TCC Nipah menggandeng BUMN yaitu Injourney Airport Bandara Bizam Lombok. Selain bekerja sama dengan beberapa perusahaan baik swasta maupun milik negara, komunitas juga melakukan transplantasi dengan pembiayaan sendiri untuk tetap merawat dan menjaga karang.
“Sampai saat ini, komunitas sudah melakukan rehabilitasi/penanaman terumbu karang pada areal hampir 1 hektare dengan area tanam 3 hektare. Kondisi di lapangan butuh sentuhan langsung, terutama dalam rangka memperbaiki terumbu karang yang sudah hancur oleh alam,” ujarnya.
Melalui transplantasi terumbu karang, sedikit demi sedikit habitat di sekitar area rehabilitasi sudah mulai membaik. Hal tersebut ditandai dengan adanya pertumbuhan karang baru. Bahkan, dengan metode spider tersebut, diakui sangat membantu dalam pemulihan karang sebagai habitat bagi penyu dan ikan-ikan kecil.
Iwan menegaskan, rehabilitasi terumbu karang oleh TCC Nipah dapat menggerakkan empati, kepedulian dan tanggung jawab seluruh elemen dalam menjaga alam. Dengan kata lain, baik perusahaan BUMN, swasta, individu maupun pemerintah, dapat menjalin kerja sama atau menguatkan dukungan kepada TCC Nipah agar areal rehabilitasi bisa lebih luas lagi. Pulihnya terumbu karang memberi banyak manfaat baik secara ekonomi maupun ekologi.
Pihaknya juga berharap, ke depan akan semakin banyak perusahaan ataupun komunitas yang berperan aktif dalam membantu rehabilitasi terumbu karang. TCC dalam hal ini, senantiasa terbuka bilamana BUMB/BUMD atau individu menawarkan dukungan operasional.
Ia tak membantah, selama proses rehabilitasi, TCC mengalami kesulitan. Kemitraan TCC Nipah dengan Komunitas Penyelam Profesional Lombok, masih dihadapkan pada kurangnya sarana selam. Komunitas kata dia, hanya memiliki empat unit alat diving. Sementara dalam proses transplantasi dan monitoring, memerlukan sumber daya penyelam yang lebih banyak.
“Minimal 10 set alat diving harus ada, agar maksimal dalam melakukan kegiatan transplantasi. Karena setelah ditanam, ada kegiatan monitoring yang dilakukan setiap dua bulan sekali. Ini butuh banyak tim dalam membersihkan karang agar merangsang pertumbuhan semakin bagus. Selain alat diving, kami juga kekurangan kompresor untuk pengisian oksigen khusus. Harapan kami, ada bantuan dari berbagai pihak khususnya dari anggaran CSR,” pungkas Iwan. (ari)



