KELANGKAAN semen di Lombok Barat (Lobar) mengakibatkan harga melambung tinggi di pasaran menembus Rp87 ribu hingga Rp90 ribu per sak. Memasuki akhir tahun dan musim penghujan, proyek fisik yang sedang berlangsung dikawatirkan terdampak hingga memicu inflasi. Kondisi ini menjadi perhatian serius dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lombok Barat.
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kabupaten Lombok Barat, Hj. Damayanti Widyaningrum, SP., M.Si., mengatakan, peningkatan permintaan dari sektor proyek menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Menurutnya, memasuki periode menjelang musim hujan biasanya banyak pekerjaan pembangunan mulai berjalan setelah proses tender rampung. Kondisi itu kemudian mendorong kebutuhan semen dalam jumlah besar.
“Dari tahun ke tahun memang biasanya terjadi kenaikan menjelang Oktober, bertepatan dengan masuknya musim hujan. Pada periode itu banyak proyek mulai berjalan setelah proses tender selesai,” ujarnya Kamis (1/10/2026).
Damayanti menjelaskan, meningkatnya kebutuhan dari proyek-proyek pembangunan dapat memberikan tekanan terhadap harga apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan semen di pasaran. Namun, ia mengatakan pemerintah daerah belum dapat memastikan apakah kenaikan harga tersebut semata-mata disebabkan oleh tingginya permintaan atau terdapat faktor lain dalam rantai distribusi.
Karena itu, TPID Lombok Barat berencana melakukan pemantauan langsung ke lapangan. Pemeriksaan tidak hanya diarahkan kepada distributor, tetapi juga pengecer yang menjadi titik terakhir sebelum semen sampai kepada konsumen.
Damayanti menyebut, pengawasan tersebut penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan, termasuk memastikan tidak ada pihak yang sengaja menahan pasokan untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga.
“TPID seharusnya melakukan sidak, baik kepada distributor maupun pengecer. Kita perlu melihat apakah ada penimbunan atau persoalan dalam distribusi semen,” tegasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada laporan resmi yang diterima pemerintah daerah mengenai dugaan penimbunan semen di Lombok Barat. Karena itu, langkah pengawasan diperlukan agar dugaan tersebut tidak berkembang menjadi kesimpulan tanpa bukti.
Menurut Damayanti, pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan harga semen memang cenderung mengalami kenaikan pada periode akhir tahun. Salah satu faktor yang perlu diantisipasi adalah meningkatnya kebutuhan proyek yang harus diselesaikan sebelum batas waktu pekerjaan.
“Ketika proyek dikejar target penyelesaian pada Desember, kebutuhan semen tentu meningkat. Kondisi seperti ini harus kita awasi supaya tidak dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara tidak wajar,” ucapnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga akan melihat pola distribusi semen dari tingkat distributor hingga pengecer. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah kenaikan harga terjadi secara berantai atau hanya pada titik tertentu.
Damayanti mengatakan pemerintah belum ingin menuding pelaku usaha sebelum memperoleh data yang jelas. Sebab, kenaikan harga juga dapat terjadi akibat ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
“Kalau ada yang bermain di tingkat pengecer, tentu akan kita tertibkan. Tetapi kita harus melihat fakta di lapangan terlebih dahulu, apakah memang ada permainan atau karena permintaan lebih tinggi daripada ketersediaan,” pungkasnya. (her)



