BerandaNTBSUMBAWA10 Warga Sumbawa Masih Dipasung

10 Warga Sumbawa Masih Dipasung

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumbawa menurunkan angka kasus pasung dari sebelum sebanyak 12 kasus menjadi 10 kasus. Jumlah itu cenderung tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi NTB.

“Angka pasung kita masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan daerah lain. Bahkan dalam tiga tahun terakhir ada 11 ODJB yang bunuh diri,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Sumbawa, dr.Abadi Abdullah, Senin (12/10).

Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan fisik seseorang memiliki keterkaitan erat dengan kondisi kesehatan psikis. Begitu pula dalam proses penyembuhan penyakit fisik, kondisi mental pasien turut memberikan pengaruh terhadap proses pemulihan.

Berdasarkan data terakhir terdapat 1.069 orang dengan gangguan jiwa berat yang tersebar di 24 kecamatan dan dalam pengawasan tenaga kesehatan di puskesmas. Selain itu, tercatat sebanyak 1.425 orang mengalami gangguan jiwa ringan hingga sedang seperti depresi dan lainnya.

“Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian serius karena gangguan kesehatan jiwa ringan yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi gangguan jiwa berat,” ucapnya.

Menurutnya, peningkatan kasus gangguan jiwa berat turut berpengaruh terhadap masih ditemukannya kasus pasung. Pihaknya juga akan terus melakukan skrining kesehatan jiwa, sosialisasi dan penyuluhan ke masyarakat serta pelatihan bagi tenaga kesehatan dan tenaga medis sebagai bagian dari upaya pengendalian gangguan jiwa.

“Keberadaan rumah singgah ODGJ di bekas Puskesmas Buer menjadi sebagai salah satu kebutuhan penting,sehingga diharapkan menjadi tempat perawatan sementara yang aman, termasuk bagi pasien pasung,” timpalnya.

Namun demikian, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya keterbatasan dokter spesialis. Saat ini, Kabupaten Sumbawa baru memiliki dua dokter spesialis jiwa. Selain itu, masih terdapat pasien yang telah menyelesaikan perawatan di rumah sakit, tetapi menghadapi kendala untuk diterima kembali oleh keluarganya.

“Kami berharap rumah singgah ODGJ ini dapat mulai beroperasi tahun 2027. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat sistem penanganan kesehatan jiwa secara terpadu,” harapnya. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO