Giri Menang (Suara NTB) – Kepala Desa Banyu Urip, H. Selamat Riadi menyebutkan kekeringan mengakibatkan 2.000 jiwa mengalami krisis air yang dilayani melalui distribusi air secara berkala. Warga membutuhkan bantuan tandon air untuk penampungan.
Untuk penanganan sementara kebutuhan air disuplai dari secara berkala. Sekali penyaluran air, sebanyak dua hingga tiga armada yang dikerahkan untuk menyuplai air ke warga. Seperti Selasa (13/10/2026), sebanyak dua armada diturunkan Pemkab Lombok Barat (Lobar) untuk menyalurkan air ke desa itu. Beberapa titik disalurkan air yang ada di Dusun Bantir dan Sambiratik.
Selain air bersih yang disalurkan ke warga, Pemkab melalui BPBD juga memberikan dua tandon untuk penampungan air. Dua tandon air itu dipasang di sumur bor dan satu lagi di Dusun Sambiratik. “Tandon air ini sangat kurang, karena kondisi alam tidak memungkinkan warga ke satu titik, paling tidak kita taruhkan di tiap-tiap titik,” jelasnya.
Pihaknya membutuhkan sekitar 10 tandon baru bisa melayani warga yang terbesar di beberapa daerah dataran tinggi. Kapasitas tandon ini bervariasi ada yang 3.500 liter hingga 5.200 liter.
Selain penduduk, ada juga sekolah dasar di desa itu terdampak kekeringan sehingga ditempatkan satu tandon untuk melayani siswa dan guru.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Lobar Ramadan Harianto, S.Sos., mengatakan terkait penanganan kekeringan di Lobar, selain melakukan droping air mencapai 1.510.400 Liter. Pihaknya juga membagikan 20 buah tandon dengan volume masing-masing 2200 liter dan tiga buah yang berkapasitas 5300 liter untuk 10 desa skala prioritas.
“Masih enam desa yang bersurat ke BPBD masih tentatif,” terangnya. Pihaknya pun segera merespons desa yang membutuhkan tandon atau tambahan tandon. (her)



