Bima (Suara NTB) – Naskah kuno Bo’ Sangaji Kai yang memuat catatan sejarah Kesultanan Bima, termasuk kesaksian lokal tentang letusan Gunung Tambora pada 1815, lolos penilaian nominasi UNESCO Memory of the World Regional Register Asia-Pasifik (MOWCAP) 2026.
Penyerahan penghargaan dijadwalkan berlangsung pada 2–6 November 2026 di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Kepala Museum Samparaja Bima yang juga yang merupakan cucu dari Sultan Bima XIV, Muhammad Salahuddin, Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandiyara, S.E., M.Hum., mengatakan proses pengusulan naskah tersebut berlangsung sekitar dua tahun. Sebelumnya, Bo’ Sangaji Kai telah diakui di tingkat nasional pada 2023 sebelum diperjuangkan untuk masuk dalam daftar warisan dokumenter regional Asia-Pasifik.
“Alhamdulillah, setelah memasukkan data dan presentasi bahkan saya sendiri yang presentasi beberapa kali di hadapan dewan pakar, data-data kita lolos tanpa revisi,” katanya saat dikonfirmasi,Rabu (14/10).
Menurut dia, penilaian melibatkan sejumlah pakar dari berbagai bidang, termasuk geologi, pernaskahan, dan filologi. Tim pengusul juga mempresentasikan isi serta signifikansi naskah tersebut, untuk menjelaskan nilai sejarahnya bagi kawasan Asia-Pasifik.
Dae Dewi, begitu sapaannya, mengaku bangga atas hasil penilaian tersebut. Menurut dia, tidak semua naskah sejarah dapat melewati tahapan pengusulan hingga tingkat regional karena prosesnya memerlukan waktu dan kajian mendalam.
“Tidak semua naskah bisa tembus seperti ini. Prosesnya itu tahapannya panjang, kurang lebih dua tahun,” ujarnya.
Dalam dokumen nominasi yang diajukan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Bo’ Sangaji Kai disebut sebagai kronik Kesultanan Bima dari abad ke-17 hingga ke-19 yang masih bertahan dalam bentuk autentik dan relatif lengkap. Naskah tersebut tidak hanya berisi narasi sejarah kerajaan, tetapi juga mencakup hukum, silsilah, perjanjian, serta arsip diplomatik.
Catatan mengenai letusan Gunung Tambora pada 1815 menjadi salah satu unsur penting yang mendasari signifikansi internasional naskah tersebut. Dokumen nominasi menyebut catatan penduduk setempat itu memberikan perspektif lokal mengenai letusan yang melengkapi laporan dari Eropa.
Selain sejarah kebencanaan, naskah tersebut mencatat hubungan Bima dengan kerajaan-kerajaan lain di kawasan Asia Tenggara maritim serta interaksinya dalam perdagangan internasional. Isinya juga memuat sistem hukum terkodifikasi yang terdiri atas 119 pasal.
Dokumen nominasi turut menyoroti catatan mengenai penguasa perempuan atau sultanah dan perlindungan hukum bagi perempuan. Aspek tersebut dinilai memberikan gambaran tentang kedudukan perempuan dalam tatanan sosial dan pemerintahan Kesultanan Bima pada masa itu.
“Mereka tidak menyangka Bima yang ada di Indonesia bagian timur memiliki catatan-catatan luar biasa dan modern, yang mencerminkan masyarakat Bima melek literasi dan sangat menghargai perempuan,” tuturnya.
Pengusulan Bo’ Sangaji Kai dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Indonesia, Yayasan Museum Samparaja Bima, dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dae menyebut penyerahan penghargaan MOWCAP 2026 akan dilaksanakan di ANRI, Indonesia.
“Jadi saya berharap Bapak Gubernur juga nanti bisa hadir dalam acara pemberian anugerah tersebut,” tandasnya. (hir)



