Taliwang (Suara NTB) – Wakil Bupati Sumbawa Barat, Hj. Hanipah meminta seluruh perangkat daerah memperkuat intervensi terhadap 652 balita yang masih masuk kategori stunting. Penanganan terhadap ratusan balita harus menjadi fokus bersama, agar angka stunting di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dapat terus ditekan.
“652 anak stunting ini yang akan menjadi fokus bahan pembicaraan dan pertimbangan kita hari ini. Kita akan apakan agar yang 652 ini bisa kita tekan dan bisa kita turunkan atau kita keluarkan dari kategori angka stunting,” cetus Wabup Hanipah dalam Rapat Koordinasi Stunting Tingkat Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2026,Kamis (15/10).
Berdasarkan data bahwa prevalensi stunting di KSB turun dari 7,3 persen pada Desember 2025 menjadi 6,58 persen pada Juni 2026. Meski mengalami penurunan, masih terdapat 652 balita dari total 9.915 balita kategori stunting. Kondisi tersebut dinilai memerlukan tindak lanjut melalui program yang terarah dan sesuai dengan kebutuhan sasaran.
Wabup mengatakan, dalam upaya menekan angka stunting penting dilakukan pencegahan sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi dan pemantauan kesehatan ibu serta anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurutnya, upaya pencegahan sejak dini menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko stunting pada anak.
“Mari kita memperkuat intervensi kita sejak dini. Mencegah stunting harus dimulai sejak masa kehamilan. Karena kalau kita tidak memperhatikan dari masa kehamilan ini yakni 1.000 hari kehidupan, tentu anak ini nanti akan menjadi terkategori anak stunting,” katanya.
Ia menegaskan, penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Seluruh perangkat daerah harus berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya mulai dari dukungan bantuan sosial bagi keluarga berisiko, pemenuhan pangan bergizi dan pemberian makanan tambahan, hingga perbaikan kualitas hunian, akses air bersih, serta sanitasi.
Selain itu, fasilitas kesehatan dan posyandu didorong meningkatkan pelayanan pemeriksaan rutin bagi ibu hamil dan balita. Edukasi kepada keluarga mengenai pemenuhan gizi anak dan pentingnya pemberian ASI eksklusif juga perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya pencegahan.(bug)



