Mataram (Suara NTB) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB mengerahkan mobil perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat di desa-desa sasaran program unggulan NTB, yaitu Desa Berdaya.
Langkah ini dilakukan untuk mendekatkan akses bahan bacaan, meningkatkan minat baca, serta memperluas kesempatan masyarakat memperoleh informasi dan pengetahuan, terutama di wilayah yang belum memiliki fasilitas perpustakaan permanen.
Melalui layanan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB berupaya menjadikan buku sebagai sarana pembelajaran yang lebih mudah dijangkau masyarakat. Tidak hanya berkunjung ke desa, mobil membaca ini juga diarahkan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, khususnya di kalangan anak-anak Sekolah Dasar (SD).
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB, Dr. H. Ashari, S.H., M.H., melalui Kepala Bidang Deposit, Pengadaan, Pengelolaan dan Pelayanan, Niniek Rahayu mengatakan, program perpustakaan keliling tahun ini menyasar 20 desa berdaya sesuai target yang ditetapkan melalui anggaran APBD Perubahan (APBD-P).
Hingga saat ini, layanan tersebut telah menjangkau 12 desa. Di antaranya, Desa Taman Ayu, Senaru, Bayan, Mekarsari, Buwun Mas, Batu Mekar, Batu Putih, Pemepek, Barabali, Bangket Parak, Kelebuh, dan Ungga.
“Target kami 20 desa berdaya pada tahun 2026 ini. Sampai saat ini sudah 12 desa yang dikunjungi. Kami juga berupaya agar jangkauannya bisa melebihi target yang telah ditetapkan,” ujar Niniek.
Mantan Kepala BLK NTB ini menjelaskan, kehadiran mobil perpustakaan keliling menjadi salah satu upaya memperluas layanan perpustakaan agar tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
Masyarakat di desa, termasuk anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap buku bacaan, diharapkan mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan.
Niniek menjelaskan, keterkaitan layanan perpustakaan keliling dengan program Desa Berdaya terletak pada upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan literasi masyarakat. Salah satu sasaran utamanya adalah anak-anak sekolah yang membutuhkan bahan bacaan untuk menunjang proses belajar.
Koleksi buku yang dibawa tidak hanya berupa bacaan hiburan, tetapi juga beragam materi yang disesuaikan dengan kebutuhan usia pembaca dan pengembangan potensi desa. Buku cerita bergambar, misalnya, menjadi salah satu bahan bacaan yang dapat membantu anak-anak mengenal kata, mengeja, memperlancar kemampuan membaca, sekaligus memahami isi teks.
Menurut Niniek, ketersediaan bahan bacaan yang menarik diharapkan membuat anak-anak lebih dekat dengan buku. Kegiatan membaca juga menjadi alternatif aktivitas positif yang dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan edukatif.
Untuk mendorong antusiasme siswa, petugas perpustakaan memberikan apresiasi berupa hadiah kepada anak-anak yang mampu menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya.
Cara ini diharapkan tidak hanya memotivasi anak untuk membaca, tetapi juga melatih kemampuan memahami bacaan, mengingat informasi, dan menyampaikan kembali pengetahuan dengan bahasa sendiri.
“Anak-anak yang bisa menceritakan kembali apa yang dibacanya akan diberikan hadiah. Ini menjadi salah satu cara untuk memotivasi mereka agar semakin semangat membaca,” jelasnya.
Meski menyasar anak-anak sekolah sebagai salah satu kelompok prioritas, layanan mobil perpustakaan keliling tidak terbatas bagi pelajar. Seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkannya tanpa membedakan status sosial ekonomi, latar belakang budaya, maupun tingkat pendidikan.
Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lanjut usia (lansia) dapat mengakses bahan bacaan sesuai kebutuhan dan minat masing-masing.
Waktu pelayanan di setiap desa menyesuaikan kondisi dan antusiasme masyarakat. Namun, kegiatan membaca dan pendampingan, termasuk kesempatan bagi anak-anak untuk menceritakan kembali isi buku, dapat berlangsung hingga sekitar tiga jam.
Dengan pola pelayanan ini, perpustakaan keliling diharapkan tidak sekadar menjadi layanan peminjaman atau penyediaan buku, tetapi juga ruang belajar yang menyenangkan bagi masyarakat desa.
Niniek berharap, kehadiran mobil membaca di desa-desa berdaya dapat menumbuhkan budaya literasi secara berkelanjutan. Akses terhadap buku yang semakin dekat diharapkan menjadi modal bagi masyarakat untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki desa.
Melalui penguatan literasi, program Desa Berdaya tidak hanya diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga pada pembangunan kualitas manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk berkembang secara mandiri.(bul)



