HAMPIR 22.000 warga Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat bekerja ke luar negeri. Dari jumlah tersebut, banyak dari mereka merupakan Generasi Z, yang lahir mulai tahun 1997-2012. Malaysia masih menempati posisi pertama negara tujuan PMI, disusul sejumlah negara di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Aidy Furqan, mengatakan besarnya jumlah warga yang bekerja ke luar negeri tersebut tidak semata-mata disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan di NTB. Namun, yang banyak terjadi yaitu ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
“Kalau lapangan pekerjaan di NTB selalu tidak terbatas. Cuma seperti hasil saya workshop tadi itu, kayaknya kompetensi lulusan itu belum sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya, Senin, 26 Agustus 2026.
Menurutnya, jumlah lulusan dari bidang tertentu bisa melimpah, sementara dunia usaha justru membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian berbeda. Kondisi tersebut membuat lulusan tidak selalu dapat langsung terserap ke lapangan kerja yang tersedia.
Karena itu, perku peningkatan kompetensi atau upskilling menjadi salah satu solusi untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Langkah ini dinilai penting agar lulusan dari berbagai jenjang pendidikan dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
“Misalnya melimpah lulusan tamatan A, padahal yang dibutuhkan itu B. Itu sebabnya perlu ada pelatihan persiapan melalui sertifikasi. Saya sedang melakukan latihan sertifikasi P2 sekarang,” katanya.
Selain persoalan kompetensi, karakteristik generasi muda dalam memilih pekerjaan juga menjadi perhatian. Generasi Z dinilai memiliki kecenderungan mempertimbangkan jenis pekerjaan yang akan diambil. Namun, masih minim kesadaran untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan menerima peluang kerja yang tersedia.
“Tapi yang perlu kita bangun ini kesadaran intervenernya. Jangan milih-milih, kalau kompeten di situ ya kerja aja. Karena targetnya cari risiko nih, cari kehidupan,” lanjutnya.
Selain itu, kebutuhan pasar kerja di NTB banyak didominasi oleh jurusan pariwisata, pertambangan, dan sektor lainnya. Namun, pendidikan kompetensi di jurusan tersebut, khususnya di sektor pertambangan sangat minim. Hanya ada satu perguruan tinggi yang menyediakan jurusan pertambangan di NTB. Karena hal itu, Aidy mencoba membuka komunikasi dengan pimpinan perguruan tinggi dan dosen.
“Komunikasi ada, tetapi koneksi program belum. Kita dengan rektor, dengan para dosen. Saya sering diskusi, misalnya ada output 500, lowongannya ada 200 nih. Sementara di lowongan kerja yang lain butuh 500, yang tamat 40,” terangnya.
Ia menilai, kondisi tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan antara jumlah lulusan pada program studi tertentu dan kebutuhan tenaga kerja pada bidang lain. Di sisi lain, perguruan tinggi juga menghadapi berbagai persoalan internal, termasuk ketersediaan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan.
Atas hal itu, penyesuaian kurikulum dan diversifikasi program pendidikan dinilai perlu dilakukan agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan pasar kerja.
“Diversifikasi kurikulum perguruan tinggi maupun SMK itu wajib. Nggak bisa lagi, mau berlama deh. Ayo sadar sendiri sekarang ini kan,” sambungnya.
Menurutnya, gelar akademik saja tidak cukup untuk menjamin seseorang dapat bersaing di dunia kerja. Kompetensi nyata menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.
Ia juga menyoroti persoalan surplus lulusan pada program studi tertentu, termasuk bidang pendidikan. Penyesuaian jumlah mahasiswa pada program studi yang lulusannya berlebih, menurutnya, tidak selalu mudah dilakukan karena berkaitan dengan keberlangsungan tenaga pengajar dan operasional perguruan tinggi.
Di samping itu, Ia menekankan, pentingnya hubungan antara lembaga pendidikan dan dunia usaha. Kebutuhan industri seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan program studi, jurusan, serta kompetensi yang dikembangkan. Artinya, lulusan pendidikan perlu memiliki keahlian yang dibutuhkan pasar, bukan hanya mengandalkan bidang studi yang telah ditempuh.
“Makanya harus digandeng betul-betul lembaga pendidikan dengan dunia kerja itu harus ditempeli supaya dia tahu kebutuhan kerja sesuai dengan jurusan,” pungkasnya. (era)



