Selong (Suara NTB) – Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor berhasil meraih juara III dalam Olimpiade Literasi tingkat perguruan tinggi se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diselenggarakan Institut Riset Nusantara di Studio TVRI NTB, Mataram, Rabu (28/10/2026) lalu.
Kompetisi yang disiarkan langsung oleh TVRI NTB tersebut berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari seleksi atau penyisihan, semifinal, hingga final. Kegiatan ini diikuti mahasiswa perguruan tinggi di NTB sebagai upaya meningkatkan kemampuan akademik dan membangun budaya literasi di kalangan mahasiswa.
Ketua tim IAIH Pancor, Nurfatmah mengatakan, Olimpiade Literasi tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana mengembangkan kemampuan berpikir logis verbal, memperluas wawasan akademik, meningkatkan kemampuan baca-tulis, serta memperkuat budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi.
Perempuan yang akrab disapa Fatmah itu menjelaskan, babak final menghadirkan tantangan tersendiri bagi peserta. Selain menguji pengetahuan dan kemampuan literasi, peserta juga mengikuti adu debat dengan pembagian tim afirmasi, tim oposisi, dan tim penguji.
“Kami IAIH berada di tim oposisi,” kata Fatmah, Jumat (30/10/2026).
Tim IAIH Pancor diperkuat lima mahasiswa, yakni Nurfatmah, Maulina Cahyani, Hayatunnufus, Nia Uskaira Yanti, dan Annisa Nurul Wahidah. Kelimanya berkolaborasi menghadapi berbagai tantangan dalam kompetisi tersebut hingga berhasil membawa pulang predikat juara III.
Dalam olimpiade itu, peserta juga dihadapkan pada sejumlah mata lomba, di antaranya Pina Karante, Satungku Karante, Bakarante, Leng Karante, Sategas Karante, Sesa Karante, Pangkenang Karante, Salin Karante, Basual Karante, dan Bakadek Karante.
Menurut Fatmah, keikutsertaan dalam olimpiade tersebut memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan baru bagi seluruh anggota tim, terutama dalam memahami linguistik serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Selain itu, peserta memperoleh pemahaman lebih luas mengenai kemampuan berpikir, jenis-jenis pemikiran, serta aspek kepenulisan dalam bahasa Indonesia. Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal penting untuk meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa, khususnya dalam bidang bahasa dan literasi.
Fatmah juga mengapresiasi dukungan kampus yang telah memfasilitasi keikutsertaan tim IAIH Pancor sejak awal persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
“Kontribusi kampus dari awal memang support, kami difasilitasi hotel. Kalau bisa sih, kami juga berharap dapat beasiswa,” ujar Fatmah sambil bercanda.
Prestasi ini menjadi capaian positif bagi mahasiswa IAIH Pancor sekaligus menunjukkan pentingnya dukungan perguruan tinggi dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, dan berkompetisi di tingkat regional.
Ke depan, pengalaman mengikuti Olimpiade Literasi diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa, berpikir kritis, dan menulis, sekaligus memperkuat tradisi akademik serta budaya literasi di lingkungan kampus. (rus)



