Kota Bima (Suara NTB) – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) Kota Bima mendorong generasi muda mengembangkan usaha mandiri di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan. Namun, efisiensi anggaran berdampak pada pembinaan wirausaha muda, termasuk tidak berlanjutnya program penjaringan calon wirausaha melalui kampus.
Kepala Dinas Koperindag Kota Bima, Ruslan, mengatakan generasi muda perlu didorong untuk memulai usaha sendiri, meskipun masih dalam skala mikro. Selain membuka peluang penghasilan, pengembangan UMKM juga berkontribusi terhadap perekonomian daerah melalui penyerapan tenaga kerja.
“Kami terus mendorong anak-anak muda untuk berkecimpung di dunia wirausaha. Karena saat ini lapangan pekerjaan sangat terbatas, sehingga kami mengarahkan mereka untuk mengelola usahanya sendiri, meskipun masih dalam kapasitas skala mikro,” katanya, saat diwawancarai pada,Jumat (30/10).
Untuk mendukung pengembangan usaha, pihaknya memberikan pembinaan dan pendampingan. Pendampingan mencakup peningkatan daya saing produk, legalitas usaha, serta pengelolaan usaha dan keuangan. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi bagian dari pembinaan, terutama bagi kelompok usia produktif yang ingin mengembangkan usaha.
Ruslan mengakui, efisiensi anggaran memengaruhi pelaksanaan sejumlah kegiatan, terutama pembinaan langsung di lapangan dan penyediaan bantuan sarana serta prasarana. Program penjaringan calon wirausaha muda melalui kampus yang sebelumnya dilakukan juga tidak lagi dapat dilaksanakan.
“Efek dari efisiensi anggaran ini, dulu kami melakukan pengaderan calon wirausaha muda melalui kampus, tetapi setelah itu kami tidak bisa melakukan. Padahal, melalui kampus itu kita bisa menyeleksi dan mendeteksi calon wirausaha muda yang potensial,” ujarnya.
Selain penjaringan melalui kampus, pengembangan sentra UMKM sebagai lokasi pembinaan juga menghadapi keterbatasan. Salah satu lokasi yang pernah dijadikan pusat pengembangan UMKM adalah Kelurahan Penatoi. Meski demikian, pihaknya berupaya mempertahankan kegiatan pembinaan dengan menjalin kemitraan bersama BUMN, BUMD, dan pihak swasta.
Menurut Ruslan, kerja sama tersebut antara lain dilakukan melalui kegiatan pertemuan UMKM yang didukung BUMN. Selain itu, ia juga mendata peserta untuk mengikuti sosialisasi pembayaran nontunai menggunakan QRIS bersama bank daerah. Tujuannya guna peningkatan kapasitas pelaku usaha tetap berjalan di tengah keterbatasan anggaran.
Dari sisi jumlah, UMKM formal dan informal yang tercatat dalam Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) mencapai 27.226 unit. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2022 yang tercatat sekitar 22.000 UMKM. Sektor kuliner atau olahan pangan mendominasi, disusul fesyen dan sektor lainnya.
Ruslan mengatakan, pengembangan UMKM perlu mencakup pemasaran agar produk lokal memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas. Ia menyebut sejumlah produk asal Kota Bima telah menembus pasar global.
“Keberadaan wirausaha ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi daerah. Bayangkan, satu usaha saja bisa menyerap tenaga kerja dua atau tiga orang. Karena itu, pembinaan tetap kami upayakan meskipun anggaran terbatas,” tandasnya. (hir)



