Selong (Suara NTB) – Penggunaan rokok elektronik atau vape semakin menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan ketergantungan nikotin. Bahkan, kecanduan dapat membuat penggunanya merasa harus membawa perangkat rokok elektronik ke mana pun agar bisa menggunakannya setiap saat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. Jimmy, dalam acara sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Mataram yang digelar Dinas Kesehatan Lombok Timur (Dikes Lotim), Jumat (30/10/2026) mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap rokok elektronik sebagai produk yang aman hanya karena memiliki aroma dan varian rasa yang menarik.
Menurutnya, nikotin yang terkandung dalam rokok elektronik dapat menimbulkan ketergantungan. Ketika asupan nikotin terhenti, pengguna yang sudah mengalami kecanduan bisa merasakan gejala putus nikotin, seperti gelisah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan keinginan kuat untuk kembali merokok.
“Kalau sudah kecanduan, rokok elektronik bisa dibawa setiap saat. Ketika tidak menggunakannya, tubuh mulai merasakan dampaknya dan konsentrasi bisa menurun,” jelas Jimmy.
Ia menegaskan, ketergantungan nikotin bukan sekadar kebiasaan, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi perilaku dan aktivitas sehari-hari.
Gejala fisik akibat penggunaan rokok elektronik tidak selalu terlihat secara langsung. Pada sebagian orang, dampaknya baru disadari ketika muncul keluhan atau gangguan kesehatan. Karena itu, masyarakat perlu memahami risiko penggunaan rokok elektronik sejak awal, bukan menunggu sampai tubuh menunjukkan gejala.
Rokok elektronik merupakan perangkat yang menghantarkan nikotin melalui aerosol yang dihirup penggunanya. Berbeda dengan rokok konvensional yang membakar tembakau, perangkat ini memanaskan cairan untuk menghasilkan aerosol.
Meski tidak melalui proses pembakaran tembakau seperti rokok konvensional, rokok elektronik tetap memiliki risiko kesehatan. Aerosolnya dapat mengandung nikotin dan berbagai zat lain yang berpotensi membahayakan tubuh.
Kandungan nikotin menjadi salah satu persoalan utama karena zat tersebut dapat menyebabkan ketergantungan. Tingkat paparan nikotin juga bergantung pada jenis perangkat, konsentrasi cairan, serta frekuensi penggunaannya.
Jimmy menyoroti kecenderungan masyarakat beralih ke rokok elektronik karena menganggapnya lebih modern dan memiliki risiko lebih rendah.
Padahal, peralihan tersebut tidak otomatis menghilangkan bahaya. Jika penggunaan rokok elektronik justru membuat seseorang semakin sering mengonsumsi nikotin, ketergantungan dapat menjadi persoalan yang perlu ditangani.
Selain menyebabkan ketergantungan, penggunaan produk tembakau dan nikotin perlu diwaspadai karena berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan.
Jimmy mengingatkan, kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, gangguan paru-paru, dan gangguan fungsi ginjal.
Pada rokok konvensional, proses pembakaran menghasilkan karbon monoksida yang dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darah. Ikatan tersebut mengurangi kemampuan hemoglobin membawa oksigen ke jaringan tubuh.
Ketika pasokan oksigen terganggu, tubuh berusaha mengimbanginya dengan meningkatkan kerja jantung dan pernapasan. Dalam jangka panjang, paparan zat berbahaya dari asap rokok juga dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Sementara itu, dampak penggunaan rokok elektronik terhadap kesehatan juga perlu diperhatikan. Aerosol yang dihasilkan bukan sekadar uap air, tetapi dapat mengandung zat yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menjadikan rokok elektronik sebagai pilihan tanpa mempertimbangkan risiko yang menyertainya.
Jimmy juga mengingatkan pentingnya melindungi anak-anak dari paparan rokok dan lingkungan yang menormalisasi kebiasaan merokok.
Pengenalan rokok sejak usia dini menjadi persoalan serius karena dapat membuka jalan menuju kebiasaan merokok dan ketergantungan nikotin ketika anak beranjak dewasa. Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman mengenai bahaya rokok, termasuk rokok elektronik.
Untuk menekan risiko kesehatan akibat rokok, Jimmy berharap penerapan KTR di Lotim dapat diperkuat.
Jimmy mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya gangguan kesehatan untuk menyadari bahaya rokok. Pencegahan, edukasi, dan penguatan KTR menjadi bagian penting untuk mewujudkan lingkungan yang lebih sehat di Lotim.
Mengenai ada obat berhenti merokok itu hanya mengalihkan sensasi sementara di kepala. Tapi obat itu sudah dikurangi karena hanya untuk pengalihan. Sehingga dikhawatirkan berpengaruh pada jangka panjang. (rus)



