spot_img
Selasa, Februari 24, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEPengelolaan TNGR Harus Inklusif

Pengelolaan TNGR Harus Inklusif

GUBERNUR Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Lalu Muhamad Iqbal menegaskan keinginan pemerintah provinsi agar pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) lebih inklusif dengan mengajak semua pihak dan melibatkan masyarakat.

Hal itu dikatakan Gubernur saat menerima audiensi Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan dan General Manager Geopark Rinjani, Qwadru P Wicaksono dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB di ruang kerjanya, Senin (23/2/2026).

“Akhirnya, apapun yang terjadi dalam pengelolaan Gunung Rinjani, kami (pemerintah provinsi) orang pertama yang menghadapi situasi itu, sehingga kami merasa TNGR tidak akan mampu menghadapi sendiri semua masalah,” ungkap Gubernur.

Gubernur menjelaskan, pengelolaan enklusif yang dimaksud, karena selama ini TNGR belum maksimal berkoordinasi dengan Pemprov dan Pemkab Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah maupun masyarakat dalam hal konservasi dan pengelolaan destinasi wisata yang telah mendunia ini.

Menurutnya, pola-pola kerjasama pengelolaan bersama TNGR harus dicarikan yang terbaiknya sesuai dengan karakteristik lokal.

Gubernur mencontohkan saat terjadi kecelakaan wisatawan beberapa waktu lalu, inisiatif vertical rescue yang digagas mandiri Pemprov NTB bersama beberapa stakeholder dalam hal keamanan pendakian dan penyelamatan menjadi contoh pentingnya kerjasama yang baik antara TNGR, pemerintah provinsi dan kabupaten serta masyarakat dalam pengelolaan agar tidak berjalan sendiri sendiri.

Begitupula dalam hal konservasi seperti penanganan sampah, potensi lokal desa penyangga, infrastruktur pendukung maupun wisata pendakian sebagai pendapatan.

“Saya mendorong kalau perlu tiket pendakian dibuat mahal dan bersertifikat serta berasuransi sebagai pendakian eksklusif khusus bagi pendaki mancanegara bukan mass tourism asalkan manfaat ekonominya untuk pengembangan masyarakat sekitar melalui badan layanan usaha daerah,” sarannya.

Gubernur juga mengingatkan Gunung Rinjani sebagai simbol kehidupan masyarakat dan berharap inovasi TNGR dalam tata kelola lingkungan dan pariwisata segera diwujudkan.

“Perlu dilakukan konferensi pers dengan media media termasuk internasional untuk memberikan informasi perubahan perubahan yang sudah kita lakukan. Termasuk kesalahan terbesar kita kemarin karena promosinya trekking bukan mountaineering, sehingga orang menganggap Rinjani seperti bukit Teletubbies,” tambahnya. (ham)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO