Bima (suarantb.com) – Banjir akibat hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang melanda empat kecamatan di Kabupaten Bima pada Jumat (6/3/2026) hingga Sabtu (7/3/2026).
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Bima hingga Sabtu (7/3) pukul 22.00 Wita mencatat sedikitnya 506 rumah terendam, satu jembatan putus, serta sejumlah fasilitas umum terdampak di Kecamatan Tambora, Wera, dan Bolo.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima Nurul Huda mengatakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi pada Sabtu (7/3/2026) sekitar pukul 14.00 Wita hingga 17.00 Wita di wilayah Kabupaten Bima dan sekitarnya. Kondisi tersebut memicu meluapnya sungai dan drainase di sejumlah desa akibat meningkatnya debit air dari wilayah pegunungan.
“Terjadi hujan sedang hingga lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Debit air dari gunung meningkat sehingga sungai dan drainase tidak mampu menampung dan meluap ke permukiman warga,” katanya pada Minggu (8/3/2026).
Di Kecamatan Tambora, banjir melanda Desa Labuan Kananga dan Desa Kawinda Na’e sejak Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 18.00 Wita. Di Desa Labuan Kananga, air setinggi 10-30 cm merendam 27 rumah milik 27 kepala keluarga atau 93 jiwa. Fasilitas umum berupa SDN 2 Labuan Kananga dan kantor desa juga ikut terendam.
Sementara itu di Desa Kawinda Na’e, banjir setinggi 10-25 cm merendam 25 rumah warga di RT 10 Dusun So Na’e. Sebanyak 27 kepala keluarga atau 92 jiwa terdampak. “Hingga Sabtu malam, sebagian permukiman warga dilaporkan masih tergenang,” sebutnya.
Banjir juga terjadi di Kecamatan Wera yang meliputi Desa Nangawera, Wora, Tawali, dan Sangiang. Di Desa Nangawera, banjir setinggi 20-50 cm merendam tiga rumah warga dan satu kedai kopi milik empat kepala keluarga atau 13 jiwa di Dusun Karuwu.
“Luapan sungai dan tumpukan sampah di jembatan menyebabkan akses jalan lintas Wera-Bima di jembatan penghubung Desa Nangawera dan Desa Wora tertutup lumpur sepanjang sekitar 30 meter dan memicu kemacetan kendaraan,” jelasnya.
Di Desa Wora, banjir merendam 10 rumah warga dengan 35 jiwa terdampak. Sementara di Desa Tawali, genangan setinggi 20-50 cm merendam delapan rumah serta halaman Kantor Camat Wera. “Banjir di tiga desa tersebut telah surut dan warga melakukan pembersihan lumpur,” katanya.
Di Desa Sangiang, cuaca ekstrem disertai gelombang laut setinggi empat hingga lima meter merusak talud penahan ombak di pesisir pantai dan merobohkan satu posko kegiatan warga.
“Wilayah dengan dampak terbesar terjadi di Kecamatan Bolo, khususnya Desa Rato dan Desa Rasabou. Di Desa Rato, banjir setinggi 20–50 cm merendam 93 rumah milik 93 kepala keluarga atau 341 jiwa yang tersebar di lima RT, yakni RT 02, RT 03, RT 13, RT 15, dan RT 18,” paparnya.
Banjir juga merendam akses jalan pendidikan di wilayah tersebut sehingga sempat mengganggu arus kendaraan.
Sementara itu di Desa Rasabou, banjir setinggi 20-60 cm merendam 361 rumah milik 361 kepala keluarga atau 1.027 jiwa yang tersebar di empat RT, yakni RT 07, RT 08, RT 11, dan RT 12. SDN Inpres Rasabou 2 juga ikut terendam banjir.
Nurul Huda memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun sejumlah lahan pertanian dan infrastruktur masih dalam proses pendataan.
“Tim BPBD terus berkoordinasi dengan camat, aparat desa, TNI, dan kepolisian untuk pendataan serta penanganan darurat di lokasi terdampak, dan sejauh ini tidak ada korban,” ujarnya.
Ia menambahkan kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan tanggap darurat, logistik, dan peralatan untuk penanganan dampak banjir.
“Masyarakat kami imbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrem serta potensi bencana susulan seperti banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor,” tutupnya. (hir)

