Rabu, Maret 11, 2026

BerandaNTBKOTA BIMATren Belanja Daring, Pasar Senggol Kota Bima Sepi Pengunjung

Tren Belanja Daring, Pasar Senggol Kota Bima Sepi Pengunjung

Kota Bima (Suara NTB) – Sepuluh hari menjelang Lebaran, suasana Pasar Senggol Kota Bima justru tampak lengang. Aktivitas jual beli yang biasanya mulai ramai justru jauh menurun. Sejumlah pedagang mengeluhkan merosotnya jumlah pembeli dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan pola belanja masyarakat ke toko online serta dampak pandemi Covid-19 disebut menjadi penyebab utama turunnya omzet pedagang pasar tradisional.

Yati, salah seorang pedagang yang telah berjualan lebih dari dua dekade di Pasar Senggol, mengaku kondisi pasar saat ini sangat berbeda dibandingkan masa sebelum pandemi.
“Saya jualan di pasar ini sudah lebih dari dua puluh tahun,” ujarnya saat ditemui di lokasi pasar, Selasa (10/3).

Menurutnya, sebelum maraknya belanja daring, suasana pasar biasanya sudah ramai sejak dua pekan menjelang Lebaran. Pedagang bahkan berani menambah stok barang karena permintaan meningkat.

“Kalau dulu sebelum maraknya belanja online itu, H-15 Lebaran sudah ramai. Omzet sudah banyak dan berani stok barang,” katanya.

Namun kondisi itu berubah dalam beberapa tahun terakhir. Dampak pandemi Covid-19 mempercepat peralihan kebiasaan belanja masyarakat ke platform daring.

Akibatnya, omzet yang dulu bisa mencapai jutaan rupiah dalam sehari kini sulit dicapai. Bahkan ada pedagang sama sekali tidak ada transaksi.

“Kalau dulu itu Alhamdulillah, kalau siang hari gini saja sudah jutaan. Kalau sekarang, satu hari kadang tidak laku sama sekali,” katanya.

Pun ada pembeli kata dia, nilai transaksi relatif kecil. Pedagang hanya menjual barang kisaran Rp100 ribu-Rp200 ribu.

Sepinya pembeli membuat sebagian pedagang kesulitan menutup biaya operasional. Mereka tetap harus membayar sewa lapak dan berbagai kebutuhan usaha, meskipun pendapatan menurun.

Pantauan di Pasar Senggol sejumlah toko tertutup. Beberapa pedagang memilih tidak membuka lapak karena minimnya pembeli yang datang. Selain belanja online, pedagang juga menilai persaingan dengan toko modern turut memengaruhi kondisi pasar. Konsumen cenderung berbelanja di toko besar, karena harga barang sudah tertera dan dianggap lebih murah.

“Semua pada beli di toko-toko besar karena di sana sudah ada harganya, dianggap lebih murah,” katanya.

Menurutnya, pedagang pasar sulit menurunkan harga karena harus menanggung berbagai biaya, mulai dari sewa tempat hingga operasional usaha. Di tengah kondisi tersebut, pedagang berharap pemerintah daerah memberi perhatian terhadap keberlangsungan Pasar Senggol yang merupakan salah satu aset daerah.

“Harapan saya itu tolong pemerintah, terutama wali kota, perhatikan Pasar Senggol ini. Ini aset daerah, pemasukan daerah juga,” tandasnya. (hir)

IKLAN Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM
RELATED ARTICLES
IKLAN Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM




VIDEO