oleh :
Lalu Gita Ariadi
Jumat 6 Maret 2026 saya satu pesawat ke Jakarta dengan dr Jack. Pelita Air flight 141 pukul 10 wita. dr Jack, naik pesawat menggendong putra kecilnya yang sangat manja (kemboq) dengannya. Miq katanya menyapa. Sambil cerita akan bawa anaknya pulang ke Jakarta.
‘’Bijem niki milu belombok. Lamun te bilin leq Jakarta, sakit demam dia,’’ kata dr Jack. Saya paham maksud dan situasinya. Walau sejenak, tapi kami sempat ngobrol, belauq bedaye (kesana kemari). Seperti biasanya.
Tiba di Cengkareng saya turun lebih awal. Gopoh-gopoh (buru-buru) kejar acara akan segera dimulai. Tidak bertemu dr. Jack. Dalam perjalanan ke arah Cilandak, saya telepon dr. Jack yang tadi saya tinggalkan turun belakangan.
Sama sekali saya tidak menduga dan tidak melihat tanda apapun. Bahwa itulah pertemuan dan percakapan kami yang terakhir. Selamat jalan dr. Jack.
Saya bersaksi bahwa dr Jack orang baik. Lama kami bersama. Sejak usia anak-anak hingga sama-sama menua. Kami terlahir dari rahim keluarga besar PN Pertani. Mamiq saya (H. L. Purwagita) adalah anak buah Mamiqnya dr. Jack ( H. L. Muhamad Thohir ). Di BUMN yang dulu punya kuasa mengurus pupuk, saprodi, benih pertanian di NTB.
Saya, Jack kecil dan saudara-saudaranya yang lain saling kenal. Waktu kecil sering diajak ikut arisan atau halal bihalal PN Pertani. Saya kenal Lalu Heri Prihatin, Baiq Heni Marfiatun (teman TD84 Smansa Mataram), juga adik-adiknya Wawan dan Mumung.
Kami tumbuh dan besar bersama di Karang Jangkong Cakranegara. Kadang sering bermain bola atau nonton pacuan kuda di lapangan Karang Jangkong (kini jadi lokasi Mataram Mall). Bersama teman-teman dari Karang Jangkong dan Karang Kemong kami nonton pacuan kuda dengan lompat tembok dari gudang Perhutani yang banyak tumpukan kayu besar. Prof. Asikin dan teman-temannya dari Karang Tatah juga sering lompat tembok dari lokasi yang sama.
Setamat dari Smansa Mataram, saya dan dr. Jack, dipertemukan kembali di Kota Malang. Sebelum dr Jack pindah kuliah ke Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya.
Meski kuliah di Surabaya, tapi tiap akhir minggu dr Jack selalu di Malang. Kumpul bersama teman-teman sepermainan di Mataram yang banyak kuliah di Malang. Malang – Surabaya jalur rutin yang sangat sering dilintasi dr. Jack.
Saking seringnya di Malang, ada teman yang nyeletuk penuh canda. Kok dokter ini sering bolos dan di Malang terus ? Besok kalau sudah jadi dokter saya takut dan tidak mau jadi pasiennya. Takut malpraktek karena dokter sering bolos kuliah. Dr. Jack dan teman-teman ngakak bersama.
Fakta kemudian bicara lain. Apa yang dicandai teman-teman di Malang dulu itu, faktanya berbalik 180 derajat ketika kini kami sama-sama kembali ke Mataram. Kini, teman-teman kami itu justru kalau ada sedikit gangguan kesehatan, langsung kontak dr Jack. Resep pun keluar. Apapun sakitnya kalau sudah ditangani dr Jack, lahir batin teman-teman itu pasti sembuh dan happy. ‘’Itulah The power of Mr. Jack,’’ kata teman-teman berseloroh.
Saya dan dr. Jack dulu waktu masa-masa kuliah sering menanti kedatangan Pak Badri. Pak Badri, orang Dasan Tapen ini, sahabat mamiq-mamiq kami. Sebagai mitra PN Pertani dalam suplai pupuk, saprodi dan benih. Pak Badri sering bolak balik Jawa – Lombok.
Pak Badri inilah kadang sering dijadikan “jasa titipan kilat” oleh mamiq-mamiq kami untuk titip sangu bulanan kami di rantauan. Biasanya Pak Badri ke Surabaya dulu jenguk dan antarkan sangu untuk Lalu Heri Prihatin (kakak dr. Jack yang kuliah di ITS) dan sangu dr. Jack. Baru lanjut ke Malang antarkan sangu saya. Beda dengan anak kost zaman now yang serba mudah main transfer.
Setelah tamat kuliah, tidak diduga, kebersamaan saya dan dr Jack masih berlanjut. Sama-sama berkarier sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Walau awalnya dr Jack di jajaran Pemkot Mataram dan saya di Pemprov NTB.
Waktu saya menjabat sebagai Sekda NTB, Gubernur NTB – Dr Zulkieflimansyah dan Wagub Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah sangat butuh tipe Direktur RSUD Provinsi yang lebih progresif. Tangan dingin dr. Jack yang sukses mengelola RSUD Kota Mataram jadi dasar pertimbangan untuk memberi panggung dan tanggung jawab yang lebih besar kepada dr. Jack sebagai Direktur RSUD Provinsi NTB.
Alhamdulillah, seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulampun tiba. Kehadiran dr Jack sebagai direktur RSUD Provinsi NTB yang baru sesuai expektasi pimpinan. dr Jack melakukan pembenahan administrasi pelayanan rumah sakit yang lebih profesional, proporsional dan humanis. Semua staf rumah sakit dan tenaga medik dituntut kerja keras dan bekerja dengan hati. Pahami derita pasien dan keluarganya. Perlahan namun pasti langkah-langkah pembenahan berbuah nyata.
Tidak hanya administrasi pelayanan rumah sakit yang dibenahi, peningkatan SDM, peralatan dan infrastruktur RSUD Provinsi terus ditingkatkan kualitas dan kapasitasnya. Kini gedung RSUD Provinsi NTB berdiri dengan megahnya.
Waktu musibah Covid 19 melanda NTB bahkan dunia, RSUD Provinsi NTB melaksanakan tugas dengan sangat baik. dr Jack yang tidak terlalu takut dengan Covid 19, kadang sering beda sikap dengan kami di satgas Covid 19. Menurut dr Jack, tidak perlu takut berlebihan dengan Covid 19. ‘’Yang penting itu hati bahagia. Happy pasti imun jadi kuat,’’ ungkapnya.
Demikian juga untuk mendukung perhelatan MotoGP, peran dan keberadaan dr Jack sebagai direktur RSUD Provinsi yang hobi off road / otomotif dan Ketua IMI NTB sungguh sangat tepat. Hobi dan tugas profesionalnya dikerjakan dengan baik. Kecelakaan yang terjadi di lintasan MotoGP tidak sampai merenggut korban jiwa. Korban kecelakaan dapat ditangani oleh dr. Jack dan tim medisnya dengan standar operasional dan prosedure tingkat dunia. Dr. Jack dan tim mediknya pernah berangkat dan belajar menangani trauma MotoGP ke Italia dan tempat-tempat lain yang jadi tuan rumah MotoGP.
Saya memang sering diskusi dengan dr. Jack selaku Direktur RSUD Provinsi dan juga dengan staf-staf pelayanan dalam kapasitas saya sebagai Ketua Dewan Pengawas RSUD Provinsi NTB. Untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan RSUD Provinsi NTB sudah sesuai SOP dan berharap zero complain. Waktu ribut-ribut tentang polemik rumah singgah dan isu pegawai siluman, juga kami diskusikan secara intens.
Di antara sekian rentetan kenangan dan kebersamaan, saya akan selalu ingat dr Jack. Dia berjasa dan berhasil meyakinkan saya dan keluarga untuk berani operasi mata. Sehingga kini saya bisa terbebas dari kaca mata.
Dengan kondisi kacamata minus 12 dan 13, sering kali mata saya terasa kurang nyaman dalam melaksanakan tugas kedinasan. Tumpukan surat menyurat yang harus dibaca dan dituntaskan Sekda NTB selaku penanggung jawab dapur birokrasi, kadang mata terasa kurang mendukung. Sering mata lelah, kabur dan berair.
Hingga suatu hari dr Jack sarankan dan vonis untuk operasi mata. Saya kaget, takut, tapi juga butuh. Perasaan jadi nano-nano tak menentu. Sudah lama dan sudah banyak teman yang sarankan operasi lasix. Sempat berani tapi begitu tiba di Jakarta Eye Centre tiba-tiba nyali ciut.
Dr. Jack beri saran dan jelaskan operasi mata kini tidak sakit. ‘’Tiang niki pembalap. Butuh pandangan presisi. Kabur sedikit saja, maut di depan mata. Tiang sering operasi mata kalau penglihatan agak kabur,’’ katanya serius memberi sugesti.
Saya menyerah. Ikuti kata dr Jack dan alhamdulillah dengan koordinasi dan pengawasannya bersama Direktur Rumah Sakit Mata NTB operasi mata yang saya jalani berlangsung lancar dan benar tidak sakit seperti ketakutan semula.
Bisa jadi dengan segala amal kebaikannya, dr Jack sudah siapkan bekal untuk perjalanan pulangnya yang panjang.
Tapi ketahuilah, sesungguhnya masih banyak saudara, jiran tetangga, sahabat, kerabatnya yang belum siap untuk ditinggalkan. Mereka masih ingin berbahagia dalam kebersamaan. Namun, kini ajal dan takdir telah menjemputmu.
Tiada kata selain ikhlas dan doa-doa terbaik kami panjatkan mengiringi butir-butir pasir dan tanah menutup jasadmu.
Terima kasih dr Jack. Selamat jalan di bulan yang penuh berkah dan magfirah ini.
Karang Medain, 11 Maret 2026.

