Jumat, April 10, 2026

BerandaNTBLOMBOK UTARAOptimasi Padi Gogo Lahan Kering, DKP3 KLU Kontak Pusat Atasi Kendala Petani

Optimasi Padi Gogo Lahan Kering, DKP3 KLU Kontak Pusat Atasi Kendala Petani

 

Tanjung (Suara NTB) – Padi Gogo lahan kering di Kabupaten Lombok Utara (KLU) dinilai menjadi komoditas yang tidak hanya menolong ekonomi petani, tetapi juga menguatkan target kemandirian pangan nasional. Menyadari tingginya provitas padi Gogo karing tahun 2025 lalu, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) KLU menindaklanjuti aspirasi dukungan petani untuk mendukung produksi di masa depan.


Kepala DKP3 KLU, Tresnahadi, S.Pt., Jumat (10/4/2026) mengungkapkan, dukungan petani lahan kering untuk mensukseskan ketahanan pangan nasional cukup tinggi. Hal ini terlihat dari total luas tanam Padi Gogo di Lombok Utara tahun 2025 mencapai 1150 hektare dari proyeksi cakupan bibit bantuan Padi Gogo seluas 845 hektare. Dari luas tanam tersebut, luas tanam yang berhasil dipanen mencapai 732,4 hektare.


“Total produksi padi Gogo di KLU mencapai 2.568 ton dengan Provitas 35,06 kuintal per hektare,” ujar Tresnahadi.


Ia menyambung, pada periode Hanuari-Maret 2026 ini, sejumlah kelompok petani lahan kering di Kecamatan Bayan juga melakukan penanaman Padi Gogo pada areal seluas 39 hektar. Dari areal tersebut menghasilkan produksi mencapai 828,93 ton dengan tingkat provitas 35,1 kwintal.


Hingga saat ini, budi daya dan produksi Padi Gogo terbatas di tiga kecamatan dengan cakupan lahan kering cukup luas, yakni Kecamatan Gangga, Kecamatan Kayangan, dan Kecamatan Bayan. Sedangkan Kecamatan Pemenang dan Tanjung, lahan kering dapat diklaim nihil.


Dari tiga kecamatan itu pula, Kecamatan Bayan masih mendominasi luas tanam dan angka produksi padi gogo, sebesar masing-masing sejumlah 827,1 hektare dan 1.895 ton. Untuk Kecamatan Kayangan, dengan luas tanam 232,7 hektare, mendapatkan produksi 618,45 ton, serta Kecamatan Gangga dengan luas tanam 90,2 hektare, memproduksi 54,08 ton.


“Padi Gogo biasanya ditanam dengan tabela (tanam benih langsung) atau ditajuk tanpa olah lahan. Hasil produksi padi Gogo di KLU termasuk hasil yang luar biasa jika dibandingkan dengan padi lahan basah atau sawah. Produksinya beda tipis. Lahan sawah menghasilkan 6,9 ton per hektare, sedangkan lahan kering 6 ton,” paparnya.


Berbekal data empiris pertanian lahan kering tersebut, Tresnahadi menargetkan ekspansi perluasan areal tanam pada periode-periode selanjutnya. Ia mengajak seluruh masyarakat yang memiliki areal lahan kering untuk memanfaatkan lahan kosongnya untuk ditanami Padi Gogo.
Ia tidak menyangkal, berproduksi di lahan kering memiliki banyak tantangan dan kendala. Hal ini disebabkan minimnya daya dukung infrastruktur pertanian pada areal yang relatif baru, lahan lama menganggur, dan tidak memiliki akses dari daya dukung produksi seperti sumur bor dan perpipaan.


Namun demikian, Kadis DKP3 KLU menegaskan pihaknya merespons aspirasi petani lahan kering dengan menindaklanjuti usulan dan kendala kepada Kementerian terkait.


“Saat dialog dengan Kelompok Tani Pelita (Dusun Lempenge), banyak aspirasi yang disampaikan petani. Salah satunya cetak sawah baru, bantuan irigasi pipa, handtraktor dan bantuan bibit. Insyallah akan kami upayakan dengan menyampaikan ke pusat,” pungkasnya. (ari)



IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN




VIDEO