Tanjung (Suara NTB) – Sumur bor dengan No. SPB 223 BBWS NT I di Dusun Teluk, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) kini mangkrak. Alih-alih membantu petani lahan kering, sarana irigasi ini justru tidak bisa digunakan, lantaran prasarana vital berupa mesin, ditarik oleh pemerintah.
Ketua Kelompok Tani Daun Hijau, Dusun Teluk, Desa Sukadana, Jimasih, Jumat (29/5) mengakui, kelompok tani dan warga dusun penerima manfaat Sumur Bor SPB 223 mengeluhkan program yang melekat pada sumur bor tersebut. Pasalnya, sejak dibangun tahun 1997 silam, sumur bor ini hanya aktif tiga tahun atau sampai tahun 2000. Setelahnya, atau mulai 2001, sumur bor ini tidak dapat difungsikan masyarakat karena mesin pompa dicabut oleh BWS NT I selaku pihak berwenang.
“Sumur bor 20 tahunan terbengkalai karena mesin sudah ditarik. Pascagempa (2018) baru aktif, itu pun lantaran ada bantuan mesin (Sanyo) dari Gudang Garam (Tbk),” ujar Jimasih melalui pesan Whats App, kemarin.
Ketua Kelompok Tani Daun Hijau menunjuk foto dan video kondisi bangunan di lokasi SPB 223 Dusun Teluk. Rumput di halaman sekitar area sumur memang tampak kering. Menandakan bahwa sumur tersebut tidak pernah beroperasi.
Ia mengatakan, mesin Sanyo bantuan Gudang Garam, kapasitasnya kecil. Prasarana perpipaan pendukung juga kecil, hanya 2,5 inci. Kapasitas tersebut hanya untuk mengakomodir kebutuhan air minum dan mandi bagi warga di sekitar sumur.
Ia juga mengakui, terdapat mesin diesel berbasis listrik bantuan Gudang Garam untuk mendukung Sanyo tersebut. Namun kondisi saat ini, mesin tersebut dalam kondisi rusak.
Anomali menurut Jimasih, di tengah kondisi tersebut, “proyek” pemerintah justru masih bisa turun di lokasi SPB 223. Terbukti di kisaran tahun 2019 atau 2020 setelah kejadian gempa 2018, SPB 223 memperoleh program penembokan keliling.
Jimasih menjelaskan, Sumur Bor SPB 223 hanya berjalan tiga tahun, kemudian mesinnya ditarik. Alasan oknum petugas ketika itu, karena tidak ada petak lahan di sekitar sumur. Padahal, klaim Jumasih, dalam dua tahun setelah sumur dibangun, sejumlah petani Dusun Teluk, mulai melakukan cetak sawah secara mandiri.
“Sekarang ini pun, kelapa petani yang ditanam sebelum mesin dicabut, sekarang sudah berbuah. Kami juga masih memanfaatkan lahan untuk menanam jagung mengandalkan sistem tadah hujan,” ujarnya.
Jimasih menambahkan, petani Dusun Teluk sudah berupaya menyampaikan kondisi ini kepada pemerintah. Melalui Pemdes Sukadana, warga menyampaikan aspirasi agar BWS NT I mengirimkan mesin pengganti yang dicabut tahun 2001 itu.
Untuk diketahui, kata dia, area tanam yang membutuhkan dukungan irigasi sumur bor SPB 223 mencapai lebih dari 40 hektare. Rinciannya, 20 hektare areal sudah di-cover jaringan irigasi perpipaan, 17 hektare belum tersentuh jaringan, serta belasan hektare lainnya potensial terkoneksi jaringan perpipaan SPB 223. (ari)


