Tanjung (Suara NTB) – Kinerja ekonomi yang tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Lombok Utara (KLU), menunjukkan tren meningkat selama lima tahun terakhir (2021-2025). Sementara dari 17 lapangan usaha pembentuk PDRB, Sektor Pertanian (umum) menyumbang persentase tertinggi mencapai 35,01 persen.
Demikian diungkapkan Kepala BPS Lombok Utara, Isa, SE., MM., kepada wartawan, Jumat (24/4/2026). Ia menyatakan, pertumbuhan PDRB meningkat selama periode 2021-2025 baik dihitung atas dasar harga berlaku (ADHB) maupun atas dasar harga konstan (ADHK) 2010.
“Nilai PDRB ADHB meningkat dari Rp4.706,60 miliar (4,7 triliun lebih) pada tahun 2021 menjadi Rp6.371,54 miliar (6,3 triliun lebih) pada tahun 2025,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, PDRB ADHK juga mengalami kenaikan dari Rp3.262,16 miliar menjadi Rp3.853,89 miliar.
Peningkatan angka tersebut kata Isa, mencerminkan adanya pertumbuhan ekonomi riil yang positif di Kabupaten Lombok Utara. Peningkatan PDRB tersebut berdampak pada kenaikan PDRB per kapita. Menga u perhitungan ADHB, PDRB per kapita meningkat dari Rp18,798 juta lebih tahun 2021 menjadi Rp 24,027 juta lebih pada tahun 2025. Sedangkan perhitungan ADHK, PDRB per kapita juga menunjukkan tren meningkat dari Rp13,029 juta lebih menjadi Rp14,533 juta lebih.
“Ini mengindikasikan adanya peningkatan rata-rata pendapatan masyarakat secara riil maupun nominal,” ujarnya.
Isa menerangkan, nilai PDRB (ADHK) Kabupaten Lombok Utara pada tahun 2025 mencapai Rp3,8 triliun, meningkat sebesar Rp150 miliar dibandingkan tahun 2024.
Tren ekonomi yang terus membaik tersebut, berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tahun 2025, ekonomi Lombok Utara tumbuh sebesar 4,16 persen dan penurunan tertinggi angka kemiskinan sebesar 3,25 persen pada tahun 2025.
Ia menyatakan, pertumbuhan ekonomi tertinggi di tahun 2025 terjadi di sektor lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, sebesar 16,74 persen. Pemicu pertumbuhan di lapangan usaha tersebut adalah meningkatnya aktivitas pariwisata di Kabupaten Lombok utara, sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara.
Kepala BPS Lombok Utara mencatat, dari total 17 kategori lapangan usaha, tercatat 6 kategori mencatatkan pertumbuhan positif dan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sedangkan 11 kategori lainnya mengalami pertumbuhan positif namun lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun 6 kategori yang mengalami laju pertumbuhan positif dan lebih tinggi dari laju pertumbuhan tahun sebelumnya, antara lain lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian
sebesar 3,89 persen; Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 14,70; Konstruksi 3,41; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 16,74; Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 6,36; dan Jasa Pendidikan sebesar 2,83 persen.
Sementara, 11 kategori lapangan usaha lainnya yang mengalami pertumbuhan positif namun bergerak lebih lambat dari tahun sebelumnya adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2,45 persen; Industri Pengolahan 2,99; Pengadaan Listrik dan Gas 6,77; Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 6,04; Transportasi dan Pergudangan 5,11; Informasi dan Komunikasi sebesar 3,27; Real Estate 4,03; Jasa Perusahaan 4,4; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 2,34; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 2,55; dan jasa lainnya sebesar 5,38 persen.
“Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi sekitar 35 persen, disusul sektor perdagangan, industri, dan jasa,” demikian Isa. (ari)

