Selasa, April 28, 2026

BerandaHEADLINEInvestor Tiongkok Tertarik Bangun PLTS di NTB

Investor Tiongkok Tertarik Bangun PLTS di NTB

Mataram (Suara NTB) – Investor asal Tiongkok tertarik untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di NTB. Kini, investor tersebut telah melakukan peninjauan. Dalam tinjauannya, pihaknya bersama dengan gubernur membahas sejumlah rencana strategis seperti lokasi pembangunan, pemetaan potensi energi surya di sejumlah wilayah strategis, hingga penjajakan skema business plan yang akan dikembangkan dalam proyek tersebut.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan apresiasi dan menyambut baik minat investasi vang diarahkan untuk kawasan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. la menilai, pengembangan PLTS di kawasan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong transisi energi bersih serta memperkuat daya tarik investasi berkelanjutan di NTB.

“Pertemuan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkuat kerja sama internasional di sektor energi terbarukan, sekaligus menegaskan komitmen NTB dalam mengembangkan potensi energi surya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di masa depan,” ujarnya di Pendopo Gubernur NTB, Minggu (26/4/2026) malam.

Pada tahun ini, NTB menargetkan sejumlah proyek strategis dapat terealisasi. Di antaranya pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) oleh PT Berkah Energi Lombok yang bekerja sama dengan PT Shine Green Energy Indonesia. Proyek senilai Rp3,1 triliun ini mencakup pembangunan PLTS dan PLTB dengan total kapasitas 130 MW yang tersebar di Lombok Utara, Dompu, Bima, dan Lombok Barat.

Sebelumnya, investor asal Australia tertarik untuk membangun PLTS di lahan eks Bandara Selaparang. Mereka tidak hanya tertarik mengembangkan PLTS, tetapi juga melirik pariwisata hingga UMKM di NTB.

Dikatakan, investor tertarik pada lahan berstatus clean and clear seluas minimal 50 are. Salah satu opsi yang disarankan oleh Pemprov adalah eks Bandara Selaparang yang kini berada di bawah pengelolaan Angkasa Pura.

Tak hanya energi baru terbarukan (EBT), sektor pariwisata juga menarik perhatian mereka. Para investor dikatakan melirik kawasan pasar seni seluas kurang lebih 1 hektare untuk dikembangkan menjadi pusat UMKM terpadu dan atraksi budaya.

Pemprov NTB juga berencananya akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste to Energy (WtE) di sejumlah titik rawan sampah di NTB, terutama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin mengaku saat ini terdapat sekitar 4-5 investor yang telah melakukan pra Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan untuk pembangunan PLTSa tersebut. “Sudah ada kurang lebih 4-5 investor yang akan melakukan pra FS. Kita kawal sama-sama. Termasuk sampah yang di Mandalika. Bagaimana penyelesaian sampah-sampah yang masuk wilayah NTB,” ujarnya.

Pengembangan waste to energy, katanya menjadi bagian dari upaya mengurangi beban tempat pemrosesan sampah sekaligus memaksimalkan nilai ekonomi dari sampah. Masuknya investor WtE, kata dia, masih membutuhkan kajian komprehensif, terutama terkait kelayakan ekonomi.
Investor perlu menghitung proyeksi keuntungan, skema pengembalian modal, serta kepastian pasokan sampah yang sesuai spesifikasi teknologi.

“Yang membuat lama itu kan mereka harus memikirkan berapa keuntungannya kan. Walaupun sekarang sudah ada kemudahan dari pemerintah pusat, tetap perlu kajian menyeluruh,” katanya.
Selain aspek bisnis, tantangan lain adalah persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan air lindi. Samsudin menegaskan penerapan teknologi PLTSa nantinya harus memenuhi baku mutu lingkungan yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO