Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram melalui Bidang PAUD dan Pendidikan Non-Formal (PNF) menegaskan bahwa anak usia dini tidak boleh dijejali pelajaran membaca, menulis, dan menghitung (calistung). Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan proses pembelajaran berjalan proporsional sesuai dengan jenjang perkembangan anak.
Kabid PAUD-PNF Disdik Mataram, Sabariah, menyatakan bahwa anak-anak di jenjang PAUD tidak boleh dipaksa memahami materi pelajaran yang berat seperti calistung.
“Tidak boleh. Bahkan syarat masuk SD tidak boleh mensyaratkan membaca, menulis, dan menghitung,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Sabariah, jenjang PAUD merupakan fase bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia melalui permainan yang menstimulasi kognisi serta imajinasi.
Selain itu, usia PAUD adalah masa keemasan (golden age) anak untuk menggali potensi dan membangun karakter. Oleh karena itu, membebani anak dengan pembelajaran calistung justru dikhawatirkan dapat menghambat pembentukan karakter mereka.
“Masa di TK itu masa golden age. Masa yang tidak akan ditemukan di SD. Di situ masanya mereka bermain. Karakternya dibentuk dari sana. Jadi tidak harus bisa baca tulis,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pembelajaran calistung sebenarnya tetap boleh diberikan, asalkan metode yang digunakan tepat dan tidak membebani anak. Sebagai contoh, materi tersebut diintegrasikan dengan permainan atau disampaikan secara persuasif sebagai bentuk pengenalan awal.
“Metodenya pengenalan angka, pengenalan huruf. Tahapannya mengenalkan bukan dipaksa anak harus bisa baca tulis,” tegasnya.
Guru dan Orang Tua Harus Suportif
Dalam upaya membangun karakter anak yang memiliki kepekaan sosial tinggi, guru dituntut memiliki kemampuan yang memadai untuk mengenali karakter dan potensi unik setiap anak. Oleh sebab itu, Sabariah terus mendorong para tenaga pendidik untuk meningkatkan kompetensi mereka.
“Tujuannya guru bisa memetakan kemampuan dan potensi anak,” jelasnya.
Di sisi lain, orang tua juga harus memiliki kesadaran untuk melihat bakat dan minat anak. Bagaimanapun, bakat tidak selalu diukur dari kemampuan calistung, melainkan dari kecakapan anak dalam berinteraksi dan membangun solidaritas dengan sesamanya.
“Kadang orangtua bangga anaknya umur sekian sudah bisa baca tulis. Tapi itu bukan suatu prestasi. Masa mereka adalah golden age, masa mereka bermain, dan membentuk karakter,” pungkasnya. (sib)

