Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram mulai mengkaji penerapan sistem pembayaran nontunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk pembayaran retribusi pasar tradisional di Kota Mataram.
Digitalisasi sistem pembayaran tersebut dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk meminimalisasi kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar yang selama ini masih dilakukan secara manual.
Namun demikian, penerapan sistem digital tersebut belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Selain mempertimbangkan kesiapan para pedagang pasar, Disdag juga harus memikirkan dampak sosial yang akan muncul apabila sistem pembayaran elektronik diterapkan secara menyeluruh.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, H. Irwan Harimansyah, mengatakan pihaknya pada prinsipnya mendukung arah digitalisasi pelayanan publik yang juga menjadi perhatian DPRD Kota Mataram. Meski begitu, penerapan QRIS di lingkungan pasar tradisional memiliki tantangan yang berbeda dibanding sektor pelayanan lainnya.
Menurutnya, sistem pungutan retribusi pasar selama ini masih mengandalkan tenaga juru pungut yang turun langsung ke lapangan setiap hari. Apabila sistem pembayaran digital diterapkan secara penuh, kebutuhan tenaga penarik retribusi dipastikan akan berkurang.
“Persoalannya, ke mana mereka nanti setelah dikurangi? Ini yang harus kita pikirkan secara bijak,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Irwan menjelaskan, selain persoalan SDM, kesiapan pedagang juga menjadi tantangan utama dalam proses digitalisasi tersebut. Sebagian besar pedagang pasar tradisional masih terbiasa melakukan transaksi secara tunai dan belum seluruhnya akrab dengan sistem pembayaran digital.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sektor perparkiran yang dikelola Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram. Menurut dia, penerapan digitalisasi di sektor parkir relatif lebih mudah karena pengguna jasanya didominasi kalangan muda atau masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan teknologi digital.
“Kalau di parkir, banyak mahasiswa dan masyarakat yang memang sudah biasa pakai pembayaran digital. Sementara di pasar, karakter pedagangnya berbeda-beda,” katanya.
Berdasarkan hasil komunikasi yang dilakukan pihaknya dengan para pedagang, sebagian besar pedagang masih merasa lebih nyaman menggunakan sistem pembayaran manual dibandingkan aplikasi digital.
“Setelah saya tanya, mereka tidak mau ribet, maunya yang biasa saja dengan pungut manual,” ujarnya.
Meski demikian, Irwan menilai penerapan QRIS tetap memiliki banyak keuntungan, terutama dari sisi transparansi dan pengawasan penerimaan retribusi. Dengan sistem digital, seluruh transaksi dapat tercatat secara otomatis sehingga potensi kebocoran penerimaan daerah dapat ditekan.
Selain itu, sistem pembayaran digital juga dinilai mampu meningkatkan akuntabilitas pengelolaan retribusi pasar karena proses pembayaran tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pencatatan manual petugas lapangan.
Saat ini, Disdag masih melakukan kajian mendalam terkait kesiapan infrastruktur, pola penerapan, hingga dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan tersebut. Pemerintah juga mempertimbangkan skema transisi agar penerapan QRIS nantinya tidak menimbulkan gejolak di kalangan pedagang maupun petugas retribusi.
Irwan menyebutkan, uji coba penerapan QRIS untuk retribusi pasar kemungkinan baru akan dilakukan secara bertahap mulai 2027 mendatang. Selama masa persiapan, Disdag akan fokus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pedagang terkait penggunaan sistem pembayaran digital.
“Kalau sekarang, semua pasar belum menggunakan QRIS untuk retribusi itu. Kita matangkan dulu sosialisasi dan edukasinya karena ini tidak gampang,” ucapnya.
Sementara itu, Disdag Kota Mataram pada tahun 2026 menargetkan pendapatan retribusi pasar sebesar Rp8,25 miliar. Hingga pertengahan Mei 2026, realisasi PAD dari sektor tersebut baru mencapai hampir 30 persen atau sekitar Rp2,4 miliar.
Menurut Irwan, angka tersebut masih terus dioptimalkan melalui peningkatan pengawasan dan penataan sistem pungutan retribusi di lapangan.
“Sebenarnya QRIS ini sangat bagus untuk mencegah kebocoran,” pungkasnya. (pan)


