Mataram (Suara NTB) – Kenaikan harga tiket pesawat serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan real Arab Saudi mulai memberikan tekanan besar terhadap biaya perjalanan umrah dari NTB.
Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Bali Nusra, H. Zamroni, mengatakan kondisi ini membuat penyelenggara perjalanan umrah menghadapi situasi yang cukup berat, terutama dalam menjaga harga paket agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Menurutnya, kenaikan paling signifikan terjadi pada tiket pesawat dan biaya visa yang seluruh transaksinya menggunakan mata uang asing.
Ia menjelaskan, harga tiket penerbangan menuju Arab Saudi mengalami lonjakan cukup tajam, termasuk untuk maskapai yang selama ini dikenal menawarkan tarif lebih rendah. Bahkan, kata dia, harga tiket maskapai Batik Air saat ini sudah mendekati tarif maskapai premium.
“Garuda sekarang justru bisa lebih murah dibanding Batik dari Lombok. Ini yang membuat teman-teman travel cukup kaget,” katanya, Senin, 25 Mei 2026.
Kondisi ini, lanjutnya, memicu keresahan di kalangan agen perjalanan umrah. Bahkan pihak wholesaler disebut sempat mengancam membatalkan ribuan kursi penerbangan charter tujuan Lombok akibat tingginya biaya operasional.
“Ada sekitar 5.500 booking penerbangan Batik Air untuk Lombok dari Juni sampai Desember 2026 yang sudah dipetakan. Itu jumlah besar,” ujarnya.
Meski demikian, tingginya minat masyarakat untuk berangkat umrah membuat agen perjalanan tetap berusaha menjalankan paket yang sudah direncanakan. Zamroni menuturkan salah satu anggota travel AMPHURI bahkan harus memberangkatkan jamaah hingga tiga kali dalam sebulan karena tingginya permintaan.
“Hanya satu travel saja untuk Juni harus memberangkatkan sekitar 290 jamaah. Kalau ada penerbangan langsung tambahan, satu pesawat bisa penuh,” katanya.
Selain tiket pesawat, kenaikan kurs dolar AS juga berdampak langsung terhadap biaya visa umrah. Zamroni menjelaskan biaya visa saat ini mencapai sekitar 145 dolar AS per jamaah.
Ketika nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS, otomatis biaya yang harus ditanggung jamaah ikut meningkat signifikan.
“Kalau dulu hitungannya masih di angka Rp16 ribu per dolar saja sudah berat, sekarang sudah mendekati Rp17 ribu lebih. Kenaikannya bisa sekitar Rp250 ribu per jamaah hanya dari komponen visa,” jelasnya.
Tidak hanya dolar AS, penguatan mata uang real Arab Saudi juga turut memengaruhi biaya hotel dan layanan di Tanah Suci karena seluruh transaksi menggunakan real. Menurut Zamroni, nilai tukar real kini mencapai sekitar Rp4.600, naik dibanding sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp4.200 hingga Rp4.400.
“Hotel memang tidak naik signifikan, tetapi kurs real yang naik membuat biaya tetap bertambah,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai paket umrah di bawah Rp30 juta saat ini sudah sangat sulit direalisasikan.
“Kalau tiket pesawat saja sudah sekitar Rp20 juta, ditambah visa dan komponen lain, maka angka Rp30 juta itu sebenarnya sudah sangat minimal,” katanya.
Karena itu, AMPHURI meminta pemerintah pusat melakukan penyesuaian terhadap standar harga referensi umrah yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp24 jutaan.
Menurut Zamroni, standar lama sudah tidak relevan dengan kondisi biaya operasional saat ini dan justru menimbulkan tekanan psikologis bagi agen perjalanan.
“Travel jadi terbebani karena masyarakat menganggap harga harus tetap murah, padahal komponen biaya sudah naik semua,” ujarnya.
Ia mengaku asosiasi sebenarnya telah lama menyuarakan perlunya revisi standar biaya umrah tersebut. Namun saat ini pemerintah pusat masih fokus pada penyelenggaraan ibadah haji agar berjalan lancar.
Di tengah kenaikan biaya, minat masyarakat NTB untuk menunaikan ibadah umrah disebut tetap tinggi. Berdasarkan data vaksinasi dari instansi terkait, jumlah jamaah umrah asal NTB selama sembilan bulan terakhir mencapai sekitar 25 ribu orang.
Jumlah itu diperkirakan masih bisa bertambah karena tidak seluruh jamaah tercatat dalam data vaksinasi terbaru.
“Kalau melihat antusias masyarakat, sebenarnya lebih dari 25 ribu jamaah,” katanya.
Meski situasi dinilai berat, para pelaku usaha perjalanan umrah tetap berusaha bertahan dan menyesuaikan strategi bisnis agar tetap dapat melayani jamaah. Namun Zamroni mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati jika menemukan paket umrah dengan harga murah di tengah kondisi kenaikan biaya saat ini.
“Kalau masih ada yang menawarkan harga terlalu murah, Secara umum sekarang memang sudah sulit,” pungkasnya. (bul)


