Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mendistribusikan ratusan karung geobag guna membangun tanggul darurat sebagai upaya mengantisipasi banjir rob susulan di Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan.
Langkah tersebut dilakukan menyusul banjir rob yang kembali melanda kawasan tersebut pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 06.00 Wita. Banjir dipicu oleh perubahan arah angin, arus laut, serta gelombang tinggi yang menyebabkan air laut meluap ke permukiman warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Budi Wartono, mengatakan pihaknya segera menyalurkan 200 lembar karung setelah menerima laporan dari pemerintah kelurahan. Karung-karung tersebut diserahkan melalui Kepala Lingkungan Kampung Bugis untuk diisi pasir dan digunakan sebagai tanggul darurat di titik-titik yang rawan terdampak rob.
“Karung pasir ini digunakan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gelombang pasang susulan yang berpotensi menyebabkan banjir rob,” ujarnya, Jumat (5/6).
Budi menjelaskan, fenomena banjir rob di kawasan pesisir Ampenan telah menjadi siklus tahunan yang kerap terjadi. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak mengabaikan potensi bencana meskipun kondisi cuaca terlihat normal.
Menurutnya, sekitar 200 hingga 250 kepala keluarga terdampak banjir rob kali ini. Namun, tidak ada warga yang mengungsi karena genangan air dengan ketinggian sekitar 30 hingga 50 sentimeter hanya melintas di jalan lingkungan dan tidak sampai masuk ke rumah-rumah warga.
“Banjir rob terjadi selama sekitar satu hingga dua jam, setelah itu kondisi kembali normal,” katanya.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), potensi gelombang pasang diperkirakan masih dapat terjadi hingga 6 Juni 2026.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, BPBD Kota Mataram mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi bencana secara mandiri, termasuk mengamankan diri dan keluarga apabila terjadi peningkatan gelombang pasang.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada aparat setempat atau BPBD apabila melihat tanda-tanda gelombang pasang yang berpotensi menimbulkan banjir rob.
Selain itu, BPBD telah menempatkan petugas di sejumlah titik sepanjang kawasan pesisir Kota Mataram untuk melakukan pemantauan dan pelaporan kondisi secara berkala. Pengawasan dilakukan di sepanjang 9,1 kilometer garis pantai yang menjadi wilayah rawan terdampak rob.
“Masyarakat terus kami ingatkan agar tetap waspada, tetapi tidak perlu khawatir berlebihan karena fenomena ini merupakan siklus tahunan,” ujar Budi.
Di sisi lain, mantan Camat Mataram tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai berbagai penyakit yang berpotensi muncul selama masa peralihan musim dari penghujan ke kemarau. Menurutnya, perubahan cuaca yang ditandai suhu panas pada siang hari dan angin yang terasa dingin dapat memengaruhi kondisi kesehatan.
“Bisa dirasakan ketika terkena angin saat cuaca panas, badan akan terasa meriang,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat guna mengurangi risiko terserang penyakit selama masa pancaroba. (pan)


