BerandaBUDAYA DAN HIBURANSilat, Surat, Konsistensi

Silat, Surat, Konsistensi

Bre Redana melalui buku kumpulan catatan berjudul Silat, Surat: minggu bersama guru (Tanda Baca, 2024) menghadirkan tulisan yang terlihat sederhana, tetapi sarat makna. Pembaca tidak hanya bisa memetik bahan permenungan dari kisah Bre Redana dalam menggeluti silat dan surat atau dunia tulis menulis, tetapi juga mengenai kehidupan secara luas.

Dalam beberapa esai Bre Redana di luar buku ini atau di buku Kritik, Fakta, Fiksi (Tanda Baca, 2021), Bre kerap mengingatkan tentang dampak negatif era digital saat ini. Dalam buku itu, Bre menulis esai dengan lugas dengan pernyataan-pernyataan yang relatif tegas. Sedangkan, dalam buku ini, Bre menggunakan siasat yang berbeda, Bre mengajak pembaca bersama-sama melakukan permenungan.

Jika mengikuti tulisan-tulisan esai Bre Redana, pembaca mungkin pernah membaca soal persentuhannya dengan silat, khususnya di Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih. Dalam buku ini, pembaca bisa mengetahui lebih lengkap awal mula persentuhannya dengan PGB Bangau Putih.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Ada alasan tertentu dari Bre Redana membagi catatannya menjadi tiga bagian, dan dipecah lagi menjadi 27 sub bagian. Dalam sekujur buku, pembaca akan dihadirkan tentang proses perjalanan Bre Redana mengenal dan menggeluti dunia silat dan dunia kepenulisannya. Pembaca bisa membaca buku sebagai sebuah catatan perjalanan; juga bisa dibaca sebagai esai yang menguliti berbagai persoalan, yang dari sana kita bisa memetik banyak pesan.

Jika dibaca sebagai sebuah catatan perjalanan, kita bisa melihat sebuah mini-autobiografi seorang Bre Redana, khususnya dalam upayanya berlatih silat dan perjalanan kepenulisannya secara singkat.

Pembaca bisa mengetahui perjalanannya mengenal silat dan bertemu dengan sosok yang disebut ‘Guru’ yang banyak memberikannya pencerahan dalam silat dan kehidupan. Guru itu bahkan menggunakan perumpamaan dalam dunia jurnalistik untuk memudahkan Bre memahami silat. Bre banyak mengambil pekerti dari silat dalam menguatkan keterampilannya dalam menulis. “Mengambil pekerti dari silat seperti saya uraikan sebelumnya: silat itu hidup, hidup itu silat. Tulisan juga harus hidup.” (halaman 31)

Pembaca juga bisa menyelami kiprah awal Bre sebagai wartawan di beberapa bagian atau desk hingga berlabuh di desk kebudayaan hingga pensiun. Bersamaan dengan itu, pembaca juga bisa mengetahui bagaimana Bre tetap produktif menulis fiksi baik cerpen dan novel.

Buku catatan ini juga bisa dibaca sebagai kumpulan esai, yang dari membacanya kita bisa mendapatkan berbagai pesan. Tidak hanya sekadar pesan mengenai silat dan surat/tulisan, melainkan kehidupan secara umum.

Ada satu nilai yang cukup mencolok yaitu tentang proses, yang di tengah era digital saat ini, nilai itu mulai tergerus. Dalam satu bagian, Bre menuliskan sebuah kegagalannya mengikuti gerak tubuh yang diperagakan oleh Guru. Akhirnya diketahui apa pesan dari kegagalannya itu. Bre mengajak pembaca bersama-sama merenungkan makna yang bisa dipetik dari kejadian itu. “Pada kesempatan seperti ini saya mencatat: lupakan niat yang ada, beralih perhatian terhadap proses. Kita tidak boleh dikuasai niat, keinginan, ego. Cukup melakukan yang harus dilakukan.”

Makna tentang kehidupan itu tidak disampaikan dengan kesan menggurui. Bre Redana menceritakan berbagai pesan dari perjalanan aktivitasnya di silat dan dunia menulis melalui kisah kehidupan yang dijalaninya sendiri. Dari sanalah, pembaca diajak bersama-sama berada dalam kesadaran terhadap berbagai proses kehidupan, baik dalam silat maupun surat. Bre Redana menulis: “Sadar gerak, sadar nada, sadar dinamika. Itu yang membuat kata-kata dan kalimat hidup.” (halaman 69).

Pengalaman dan keterampilan menulis yang diasah Bre Redana terus menerus selama berpuluh tahun bersamaan dengan segala prinsip olah tubuh dalam silat yang digelutinya semakin menggenapi buku ini. Melalui keperajinanya, Bre dengan ciamik menceburkan kita ke dalam kisah kehidupannya yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, tetapi ditulis dengan sangat indah.

Berbagai pesan yang tersurat dalam buku ini tidak bisa muncul dari kerja-kerja ala kadarnya tanpa kedisiplinan atau konsistensi; yang tidak semua orang mampu menjalaninya dengan tekun. Apalagi pada era yang menuntut segalanya bergegas dan serba cepat seperti saat ini.

Pada akhirnya, sub judul “minggu bersama guru” relevan saat membaca buku ini. Ketika membaca buku ini, kita seolah sedang mendengarkan seorang guru menceritakan kisah dan petuah hidup tentang kesadaran; tentang cinta kasih dan kemanusiaan. (Rony Fernandez)

Judul Buku: Silat, Surat: minggu bersama guru

Penulis: Bre Redana

Penerbit: Tanda Baca

Cetakan: Pertama, Maret 2024

Jumlah halaman: xxi + 105

ISBN: 978-623-5869-09-4

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO