Dompu (Suara NTB) – Kegiatan pramuka identik dengan aktivitas di alam terbuka. Pembina pramuka bertanggungjawab dalam proses pembinaan, sehingga harus paham manajemen resiko. Pembinaan pramuka harus fokus dalam membentuk karakter bangsa melalui anak – anak didiknya.
“Kegiatan pembinaan harus disesuaikan dengan kemampuan anak binaan. Apalagi satuan terpisah, laki dan perempuan. Tidak boleh ada kegiatan yang mengakibatkan terjadinya pelecehan seksual, bullying atau eksploitasi. Sebagai pusat kepanduan dunia, sudah mengatur statuta ini untuk pramuka,” ungkap Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Dompu, Yani Hartono, SP., pada penutupan Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjut (KML) di Bendungan Mila pekan kemarin.
Pembinaan pramuka saat ini, harus berorientasi membentuk karakter anak yang cinta tanah air, menolong sesama mahluk hidup dan dirinya, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Selain membentuk karakter, juga dituntut memiliki kemampuan dan kemandirian.
Untuk melatih fisik, pembina harus memahami kemampuan anak binaannya. Jangan sampai justru berakibat buruk bagi tumbuh kembang anak itu sendiri. Tapi harus disesuaikan dengan kemampuan anaknya.
“Tidak zamannya kita harus marah–marah, pura–pura. Adiknya dipukul, guling–guling. Tidak membentuk karakter itu. Lebih baik isi otaknya dengan jiwa kepatriotisme yang logis dari pada suruh main fisik terus, otaknya ndak jalan,” ajaknya.
KMD dan KML pembina pramuka Kwarcab Dompu ini diikuti oleh 50 orang pembina se- Kabupaten Dompu sejak 1 Juni 2026. Kursus yang berlangsung sepekan ini, akhirnya pembina memiliki sertifikat kemampuan dasar dan kemampuan lanjutan. “Sertifikatnya teregistrasi di Pusdiklat Nasional, karena berbentuk elekronik. Dimanapun pembina bertugas, sertifikatnya akan tetap diakui,” katanya. (ula)


