BerandaPENDIDIKANHampir Gagal Kuliah karena Gugur KIP Kuliah, Deswita Dapat Dukungan Langsung dari...

Hampir Gagal Kuliah karena Gugur KIP Kuliah, Deswita Dapat Dukungan Langsung dari Dirjen Dikti dan Rektor Unram


Mataram (Suara NTB) – Mimpi untuk menempuh pendidikan tinggi sempat berada di ujung ketidakpastian bagi Deswita Aulia Putri. Meski berhasil lolos ke Universitas Mataram (Unram) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, keterbatasan ekonomi dan gugurnya bantuan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) membuat langkahnya menuju bangku kuliah nyaris terhenti.


Kondisi tersebut mendapat perhatian langsung dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng., dan Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., yang mengunjungi langsung kediaman Deswita di Ampenan, Kota Mataram, pada Minggu (7/6/2026).


Kunjungan tersebut menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dan perguruan tinggi dalam memastikan bahwa tidak ada anak bangsa yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya karena keterbatasan ekonomi.


Deswita merupakan salah satu calon mahasiswa yang dinyatakan lolos jalur SNBP Unram, namun tidak dapat melanjutkan proses registrasi akibat kendala biaya akibat gugur dalam seleksi KIP-K. Tinggal bersama keluarga dalam kondisi ekonomi yang terbatas, Deswita sempat dihadapkan pada kenyataan bahwa impian untuk melanjutkan pendidikan tinggi harus sirna karena keterbatasan yang Ada


Dirjen Dikti, Prof. Khairul Munadi, menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan akses pendidikan tinggi dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa yang memiliki kemampuan akademik, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.


“Pemerintah hadir untuk membantu dan memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi kurang beruntung dari sisi ekonomi. Jangan sampai ada anak-anak kita yang harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena keterbatasan biaya. Ini menjadi perhatian pemerintah dan juga perhatian khusus Presiden serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,” ujarnya.


Ia juga mengajak masyarakat untuk turut berperan dalam mendukung pendidikan generasi muda Indonesia.


“Kalau ada anak-anak lain yang mengalami kondisi serupa, sampaikan kepada perguruan tinggi. Ini adalah tugas kita bersama. Kami juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan untuk turut membantu anak-anak kita agar dapat meraih pendidikan yang lebih baik,” tambahnya.


Pada kesempatan tersebut, Prof. Khairul turut mengapresiasi langkah cepat Universitas Mataram yang secara aktif melakukan penelusuran terhadap mahasiswa yang terkendala ekonomi agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.


“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Rektor Universitas Mataram atas inisiatif dan kepeduliannya untuk mencari dan memastikan mahasiswa-mahasiswa yang menghadapi kondisi seperti ini tetap memperoleh kesempatan untuk kuliah,” ungkapnya.


Sementara itu, Rektor Unram, Prof. Sukardi, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan mahasiswa berprestasi tidak kehilangan akses pendidikan karena persoalan ekonomi.


“Tidak boleh ada anak yang putus kuliah, apalagi mahasiswa yang memiliki prestasi. Pemerintah dan universitas harus hadir untuk membantu,” tegasnya.


Menurut Prof. Sukardi, berdasarkan hasil verifikasi Unram terdapat 18 calon mahasiswa jalur SNBP yang tidak melakukan daftar ulang karena kendala ekonomi. Universitas telah menyiapkan langkah khusus agar seluruh mahasiswa tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan.


“Dari 18 mahasiswa yang tidak daftar ulang karena keterbatasan ekonomi, semuanya akan kami bantu untuk tetap melanjutkan kuliah. Untuk Deswita, kami akan mengakomodasi melalui jalur mandiri dengan biaya pendidikan nol rupiah. Kuota jalur mandiri akan kami kurangi satu agar ia tetap bisa bergabung menjadi mahasiswa Unram,” jelasnya.


Ia juga menegaskan bahwa jalur mandiri di Universitas Mataram tidak selalu identik dengan biaya tinggi. Saat ini, lebih dari 700 mahasiswa telah memperoleh skema pendidikan dengan biaya nol rupiah, termasuk 15 orang mahasiswa di Fakultas Kedokteran.


“Mahasiswa yang memiliki prestasi seperti ini tidak boleh disia-siakan. Tugas Deswita sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan tetap semangat. Soal biaya kuliah, jangan dipikirkan lagi. Kami akan membantu sampai selesai, termasuk berupaya mencarikan orang tua asuh yang dapat mendukung proses studinya,” ujar Prof. Sukardi.


Mendengar langsung dukungan yang diberikan oleh Dirjen Dikti dan Rektor Unram, Deswita mengaku bersyukur dan tidak menyangka akan memperoleh kesempatan tersebut.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Kesempatan ini sangat berarti bagi saya dan akan saya manfaatkan sebaik mungkin untuk belajar dan meraih cita-cita,” ungkapnya.


Apresiasi juga datang dari Kepala Lingkungan setempat yang menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan pemerintah dan Universitas Mataram.


“Kami sangat mengapresiasi Bapak Rektor yang turun langsung melihat kondisi warganya. Mudah-mudahan kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Deswita untuk membangun masa depan yang lebih baik,” tuturnya.


Salah seorang warga yang hadir bahkan mengaku terharu melihat perhatian yang diberikan kepada Deswita.


“Jujur saja, Deswita sempat kehilangan harapan untuk kuliah. Karena itu kami sangat bahagia dan terharu sekali hari ini. Kami melihat pemerintah dan universitas benar-benar hadir dan memberikan peluang agar ia tetap bisa melanjutkan pendidikannya,” ujarnya.


Dalam kunjungan tersebut, Deswita turut menerima bantuan pendidikan dan satu unit laptop yang akan digunakan untuk mendukung proses perkuliahannya.


Kisah Deswita menjadi pengingat bahwa di balik setiap capaian akademik, terdapat perjuangan yang sering kali tidak terlihat. Banyak anak bangsa yang tidak kekurangan semangat dan kemampuan, tetapi membutuhkan kesempatan untuk melangkah lebih jauh. Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, harapan itu dapat terus dijaga, sehingga tidak ada mimpi yang harus terhenti hanya karena keterbatasan ekonomi yang ada. (ron/*)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO