BerandaBUDAYA DAN HIBURANDi Balik Keris dan Lampu Minyak: Menemukan Masa Depan NTB dari Museum-museum...

Di Balik Keris dan Lampu Minyak: Menemukan Masa Depan NTB dari Museum-museum Desa

Oleh: Muhamad Ihwan

Pagi itu matahari Lombok belum terlalu tinggi ketika kendaraan kami meninggalkan Kota Mataram menuju Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Jalan-jalan desa membelah hamparan sawah yang mulai menghijau. Di kejauhan, siluet perbukitan berdiri tenang, sementara pohon-pohon mangga, rambutan, nangka, dan kelapa tumbuh subur di pekarangan warga. Udara terasa lebih sejuk dibandingkan kawasan perkotaan. Tidak ada kemewahan yang mencolok, tetapi ada kekayaan lain yang jauh lebih berharga: jejak-jejak peradaban yang masih dirawat oleh masyarakatnya sendiri.


Di tengah lanskap pedesaan yang asri itulah kami menemukan sesuatu yang sering luput dari perhatian pembangunan: museum desa.


Hari itu, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB melalui UPT Museum Negeri NTB melakukan kunjungan lapangan ke dua museum desa di Lombok Barat. Kunjungan ini merupakan bagian dari program Museum Masuk Desa, sebuah gerakan yang berupaya mendekatkan pelestarian warisan budaya kepada masyarakat sekaligus membangun ekosistem kebudayaan berbasis desa.


Destinasi pertama adalah sebuah museum yang dirintis oleh Haji Mundri, 86 tahun, warga Dusun Batu Kumbung, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar.


Di usia yang tidak lagi muda, Haji Mundri masih menyimpan semangat yang luar biasa. Hidupnya hampir seluruhnya didedikasikan untuk menjaga benda-benda warisan leluhur yang terserak di tengah masyarakat. Ia tidak sekadar mengumpulkan benda tua, tetapi berusaha menjaga ingatan kolektif sebuah komunitas.


“Kami masih merintis museum ini. Sudah ada legalitasnya, sudah ada notarisnya. Ke depan kami ingin didigitalisasi, dibuat virtual, agar generasi muda bisa mengenalnya,” ujarnya.


Harapan Haji Mundri sederhana. Ia berharap pemerintah dapat hadir mendukung para penjaga warisan budaya yang selama ini bekerja secara mandiri. Menurutnya, mereka yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi untuk menyelamatkan benda-benda sejarah semestinya memperoleh perhatian yang lebih besar.


Di dalam ruang koleksi yang masih sederhana itu tersimpan berbagai benda bersejarah. Ada keris, tombak, senjata tradisional, manuskrip kuno, naskah lontar, kain tradisional, hingga catatan-catatan dakwah dan ceramah yang pernah digunakan para tokoh agama masa lalu.


Bagi dunia permuseuman, museum seperti ini dapat dikategorikan sebagai Museum Pusaka atau Museum Warisan Budaya, yaitu museum yang berfokus pada pelestarian benda-benda bernilai sejarah, pusaka keluarga, manuskrip, senjata tradisional, dan artefak budaya yang memiliki nilai simbolik maupun historis.


Di tempat inilah cerita menarik muncul.
Salah seorang pengelola menjelaskan tentang sebuah brankas tua yang menyimpan beberapa keris pusaka. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, keris-keris tertentu tidak selalu mudah dikeluarkan.


“Kadang-kadang susah sekali dibuka. Seolah-olah ada yang menjaganya. Hari ini ada dua keris terbaik yang bisa dikeluarkan. Biasanya jarang sekali diperlihatkan,” ujar Haji Sanusi sambil tersenyum.


Terlepas dari berbagai keyakinan yang menyertai benda pusaka tersebut, yang lebih penting adalah nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya. Keris bukan sekadar senjata. Ia adalah karya seni, teknologi metalurgi tradisional, simbol status sosial, sekaligus representasi cara pandang masyarakat Nusantara terhadap kehidupan.


Dari Batu Kumbung, perjalanan berlanjut menuju Desa Golong.


Jika museum pertama menyimpan banyak artefak pusaka dan benda bersejarah, museum kedua menawarkan perspektif yang berbeda.


Museum yang dikelola Haji Sanusi ini menyimpan benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tempo dulu. Di sana terdapat alat memasak tradisional, peralatan pertanian, lampu minyak, alat tenun, perkakas rumah tangga, hingga berbagai benda yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lombok.


Dalam klasifikasi permuseuman, museum seperti ini lebih tepat disebut Museum Etnografi atau Museum Kehidupan Rakyat, yaitu museum yang berfungsi mendokumentasikan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat dalam keseharian mereka.


Jika museum pusaka berbicara tentang tokoh, kerajaan, dan sejarah besar, maka museum etnografi berbicara tentang rakyat biasa: bagaimana mereka memasak, bertani, menenun, beribadah, dan membangun kehidupan.


Keduanya sama penting.
Karena sesungguhnya sejarah tidak hanya ditulis oleh para raja dan bangsawan. Sejarah juga ditulis oleh petani yang menanam padi, ibu rumah tangga yang menumbuk padi, nelayan yang melaut, dan para perajin yang menciptakan karya-karya budaya.
Di sinilah letak kekuatan museum desa.


Museum desa tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda lama. Ia adalah ruang yang menjaga hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Selama ini perhatian publik sering terpusat pada museum besar di ibu kota provinsi atau kota-kota besar. Padahal, ribuan artefak penting justru tersebar di desa-desa dan dirawat oleh masyarakat secara swadaya.

Mereka adalah penjaga memori yang bekerja dalam senyap.

Karena itu, program Museum Masuk Desa yang sedang dikembangkan Dinas Kebudayaan NTB tidak hanya bertujuan melakukan pendataan koleksi. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola museum desa, meningkatkan kapasitas pengelola, memperbaiki sistem konservasi, digitalisasi koleksi, hingga pengembangan museum virtual.

Ke depan, museum desa dapat menjadi bagian penting dari penguatan 12 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di NTB, mulai dari manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, keterampilan tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, olahraga tradisional, cagar budaya, hingga warisan budaya lainnya.

Lebih jauh lagi, museum desa sebenarnya memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi budaya.

Bayangkan jika kawasan Batu Kumbung dan Golong dikembangkan sebagai koridor wisata budaya pedesaan.

Wisatawan tidak hanya datang melihat koleksi museum. Mereka juga dapat menikmati bentang alam pedesaan, menyusuri sawah, belajar membuat kerajinan tradisional, menyaksikan pertunjukan seni, mengikuti kelas membaca lontar, menikmati kuliner lokal, hingga membeli produk ekonomi kreatif masyarakat.

Di sinilah konsep ekonomi budaya bekerja.

Warisan budaya tidak lagi dipandang sebagai beban yang harus dipelihara, tetapi sebagai aset yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Ketika museum terhubung dengan UMKM, kuliner tradisional, kerajinan, seni pertunjukan, homestay, pemandu wisata lokal, hingga platform digital, maka lahirlah apa yang disebut sebagai industri budaya.

Nilai ekonomi tidak muncul karena benda pusaka dijual, melainkan karena cerita, pengetahuan, pengalaman, dan identitas budaya yang menyertainya.

Lombok Barat memiliki semua syarat untuk mewujudkan hal itu.

Alamnya indah. Budayanya kaya. Tradisinya masih hidup. Manuskripnya masih tersimpan. Koleksi museumnya masih terjaga. Tinggal bagaimana semua potensi itu diorkestrasi menjadi sebuah ekosistem yang saling menguatkan.

Perjalanan hari itu memberi pelajaran sederhana.

Di sebuah ruangan kecil yang dipenuhi keris, lontar, dan benda-benda tua, tersimpan harapan besar tentang masa depan kebudayaan NTB.

Mungkin bangunannya belum megah. Ruangnya belum berpendingin udara. Label koleksinya belum sempurna. Namun di tempat-tempat sederhana seperti itulah sesungguhnya akar peradaban masih bertahan.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Haji Mundri dan Haji Sanusi yang dengan setia menjaga warisan leluhur, kita memiliki alasan untuk optimistis bahwa kebudayaan NTB tidak hanya akan lestari, tetapi juga mampu menjadi fondasi menuju NTB yang makmur dan mendunia.

Sebab masa depan, pada akhirnya, tidak dibangun dengan melupakan masa lalu. Ia dibangun dengan merawatnya.

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO