Pagi sekitar pukul 06.00 WITA, Rukiah bersama tujuh temannya sudah bersiap menuju tanaman kangkung di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Suhu udara sekitar 18 derajat celcius pada, Kamis (11/6) dilalui begitu saja. Mantel lusuh menutupi dingin pagi itu.
Rukiah hanya buruh pemetik kangkung di sawah milik Andre. Profesi ini dijalani bertahun-tahun bersama perempuan (ibu-ibu,red) di Desa Dasan Tereng. Penghasilannya cukup untuk membantu perekonomian keluarga. Rata-rata, ia bisa membawa pulang uang sekitar Rp80 ribu-Rp100 ribu per hari. “Kita sistem borongan biasanya untuk petik kangkung. Satu bal berisi 200 ikat kangkung dibayar Rp27.500,” tuturnya.

Rukiah bersama tujuh perempuan lainnya cukup cekatan memetik kangkung. Ia paham mana daun kangkung muda dan tua. Jari jemari mereka tidak berhenti memetik batang demi batang kangkung di atas petakan sawah yang dipenuhi air. Untuk menghabiskan tanaman kangkung yang luas, ia membutuhkan waktu tiga hingga empat hari. “Kalau luasnya seperti ini kita bisa metik sampai empat hari,” ujarnya.
Sebagai buruh pemetik kangkung para perempuan di Desa Dasan Tereng seolah bersahabat dengan dinginnya air. Mereka tidak lagi menghiraukan gatal dari hama yang menempel di pakaian mereka. Dalam benak mereka adalah dapur tetap mengepul. Ketahanan ekonomi keluarga tetap terjaga.
Emas Hijau
Kangkung menjadi primadona bagi petani di Pulau Lombok, khususnya di Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada. Sayur hijau ini menjadi hidangan lezat di rumah makan maupun hotel bintang. Kangkung akan diolah menjadi pelecing dan dipadukan dengan ayam taliwang atau sate rembiga. Pelecing kangkung dan ayam taliwang ibarat sendok dan garpu, sehingga tidak bisa dipisahkan.
Andre, petani kangkung Desa Dasan Tereng menangkap peluang bisnis itu. Ia menilai kangkung sebagai emas hijau dari Pulau Lombok. Pelecing yang berbahan dasar kangkung banyak diincar oleh wisatawan domestik dan mancanegara saat berlibur ke Lombok. Rasanya yang gurih dan lezat menjadi favorit bagi semua orang.
Andre menanam kangkung di atas lahan seluas 15 hektar. Lahan ini sebagian miliknya dan sebagian lahan di sewa dari petani lainnya. Ia tidak pernah mengenal libur untuk panen kangkung. Permintaan pasar sangat tinggi, sehingga harus tetap memasok kebutuhan tersebut.
Ia tidak hanya memenuhi permintaan rumah makan dan hotel di Pulau Lombok, melainkan mengirim kangkung sampai ke Bali. “Awalnya saya hanya kirim ke KLU, tetapi sekarang sudah kirim ke Denpasar, Bali. Pengiriman ke Bali sampai dua kali sehari,” katanya.
Sebagai petani, ia tidak bisa mengurus sendiri hamparan tanaman kangkung. Andre memiliki 34 pekerja dengan tugas berbeda-beda. Mulai dari menanam, memupuk hingga memetik kangkung. Ia mengakui bisnis kangkung juga memiliki resiko gagal panen. Dari 15 hektar tanaman kangkung sekitar 10 persen pasti gagal panen akibat diserang hama. Meskipun demikian, Andre tetap mendapatkan keuntungan besar. Keuntungan bisa menyewa petakan sawah lainnya. “Pokoknya untungnya lebih besar daripada kita tanam padi,” katanya.
Kangkung Lombok Aman
Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram, Prof. Ir. Sri Widyastuti, MAppSc.Phd., menjelaskan kangkung Lombok merupakan sayuran yang telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geogratif (IG) sejak Desember 2011, karena memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari kangkung yang dibudidayakan di daerah lain. Kangkung ini merupakan bahan utama pelecing kangkung, makanan tradisional Lombok yang telah menjadi ikon kuliner dan daya tarik wisata, sehingga kangkung dibudidayakan secara luas dan menjadi sumber pendapatan bagi petani kecil.
Meskipun memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi, petani masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses pasar, fluktuasi harga, ketidakkonsistenan persyaratan mutu, kehilangan hasil pascapanen, serta keterbatasan hubungan langsung dengan pasar bernilai tinggi seperti hotel, restaurant, dan jasa catering (HORECA). “Mengatasi berbagai tantangan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat sistem pangan lokal,” terangnya.
Program Agriculture for Tourism merupakan proyek penelitian yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui Australian Center for Internasional Agriculture Research (ACIAR). Pihaknya mencoba menjawab tantangan petani untuk memenuhi kebutuhan lokal. Widyastuti menegaskan, pihaknya mengidentifikasi berbagai hambatan yang menghalangi petani untuk memperoleh manfaat maksimal dari meningkatnya perminttan sektor pariwisatan dan perhotelan. Keterlibatan petani, pedagang, pemmbeli, dan pelaku rantai lainnya.
Proyek ini berupaya memahami kebutuhan psar secara lebih baik serta mengembangkan solusi praktis untuk meningkatkan mutu produk, konsistensi kualitas, keandalan pasokan, dan kepercayaan antar pelaku rantai nilai. “Pendekatan ini membantu memastikan penelitian benar-benar relevan dengan kondisi lokasi dan menjawab tantangan para pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa wisatawan mancanegara terkadang ragu atau khawatir memakan kangkung Lombok. Mereka mengangkat kangkung terkontaminasi oleh pertisida tinggi dan logam berat lainnya. Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian dan cek laboratorium di Surabaya bahwa kangkung Lombok aman dan bebas dari bahan zat kimia. Akan tetapi menurut Widyastuti, perlu mendorong perjanjian kerjasama antara rumah makan dan hotel dengan petani kangkung. Artinya, distribusi kangkung bisa secara luas dan pangsa pasarnya bisa masuk ke seluruh hotel di Lombok. “Kita sudah kirim sampel laboratorium di Surabaya. Hasilnya, kangkung Lombok aman untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Memiliki Nilai Gizi
Kangkung dinilai sama seperti sayuran hijau lainnya. Kandungan syarat dengan gizi dan nutrisi seperti zat besi, vitamin A, vitamin C, serat, asa folat, dan antioksidan. Selain itu, kangkung mengandung mineral penting seperti kalsium,magnesium dan kalium.
Prof Widyastuti menegaskan, kandungan vitamin dan nutrisi pada kangkung dapat mencegah kanker serta dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu, wisatawan lokal maupun mancanegara tidak perlu khawatir mengkonsumsi kangkung. “Nilai gizinya sangat banyak,” ujarnya.
Pengusaha Terbantu
Budidaya kangkung yang dikembangkan masyarakat di Pulau Lombok, sangat membantu pengusaha lokal. Pelecing kangkung sebagai ikon kuliner sangat diminati dan kebutuhannya sangat tinggi. Suplai kangkung dari petani sangat membantu pengusaha untuk memenuhi permintaan wisatawan.
M. Nazib Rodhi, pengusaha ayam taliwang mengatakan, ikon kuliner di Lombok adalah ayam taliwang dan pelecing kangkung. Makanan khas ini ibarat sendok dan garpu yang tidak bisa dipisahkan. Wisatawan pasti akan memesan pelecing kangkung setiap makan di ayam taliwang. “Pokoknya tidak bisa dipisahkan antara ayam taliwang dan pelecing kangkung,” katanya.
Rodhi mengaku kebutuhan kangkung untuk rumah makannya cukup besar. Ia membeli kangkung sampai 200 ikat per hari. Kangkung dibeli di pasar tradisional dengan harga bervariatif. Dengan cara pengolahan yang baik dipastikan kangkung aman untuk dikonsumsi. (cem)


