Taliwang (Suara NTB) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter langsung dirasakan dampaknya oleh masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Pengguna bahan bakar non subsidi terutama dari kalangan ekonomi menengah, kini terpaksa beralih ke BBM subsidi, karena tidak sanggup menanggung biaya pengisian bahan bakar yang semakin mahal.
Peralihan tersebut membuat antrean kendaraan di sejumlah SPBU terlihat semakin panjang sejak pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax pada Selasa (9/6).
Salah seorang warga Taliwang, Rudi mengaku selama ini selalu menggunakan Pertamax untuk sepeda motornya. Namun kenaikan harga yang cukup tinggi membuatnya harus mengubah pilihan.
“Kemarin saya masih bisa isi Pertamax. Tapi sekarang sudah Rp16.250 per liter sudah tidak berani beli lagi,” ujarnya saat ditemui di salah satu SPBU di Taliwang, Jumat (11/6).
Hal serupa diungkapkan Andi, seorang pegawai swasta. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini memaksanya lebih berhitung dalam mengelola pengeluaran rumah tangga. “Bukan karena tidak mau pakai Pertamax lagi, tapi memang harus menyesuaikan kemampuan. Selisih harga lumayan kalau dihitung dalam sebulan,” katanya.
Ia mengaku mulai merasakan perubahan suasana di SPBU sejak kenaikan harga Pertamax. Antrean kendaraan yang mengisi Pertalite terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. “Sekarang kalau isi Pertalite antreannya lebih panjang. Banyak yang mungkin sama seperti saya, pindah dari Pertamax,” tukasnya.
Fenomena tersebut juga diakui petugas SPBU. Salah seorang operator SPBU di Kecamatan Taliwang yang enggan disebutkan namanya mengatakan jumlah pembeli Pertamax mengalami penurunan cukup signifikan sejak naiknya harga BBM non subsidi tersebut. “Yang paling terasa itu pengguna sepeda motor. Dulu banyak yang isi Pertamax, sekarang sebagian besar beralih ke Pertalite,” ujarnya.
Menurutnya, sejak kenaikan harga diberlakukan, volume penjualan Pertalite meningkat, sementara pembelian Pertamax justru menurun.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga Pertamax tidak hanya berdampak pada pengeluaran masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan konsumsi BBM bersubsidi. Padahal selama ini sebagian pengguna Pertamax berasal dari kelompok masyarakat yang secara ekonomi masih mampu membeli BBM nonsubsidi.
Kini warga berharap pemerintah dapat kembali mengevaluasi kebijakan harga BBM, agar tidak semakin membebani masyarakat. Di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat, warga mengaku harus semakin cermat mengatur pengeluaran, termasuk urusan bahan bakar kendaraan yang menjadi kebutuhan sehari-hari. (bug)

