Mataram (Suara NTB) – Harga kebutuhan pokok di Provinsi NTB hingga Senin, 15 Juni 2026 masih terpantau relatif stabil meski terdapat pergerakan pada sejumlah komoditas hortikultura. Kenaikan harga pangan di NTB terutama terjadi pada kelompok bawang-bawangan dan cabai, sementara beberapa komoditas pangan lainnya justru mengalami penurunan.
Berdasarkan data perkembangan harga rata-rata barang kebutuhan pokok yang dirilis Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB, perbandingan harga antara 15 Juni 2026 dengan 12 Juni 2026 menunjukkan fluktuasi yang masih berada dalam batas normal.
Kepala Disperindag NTB, Lalu Wiranata, menyampaikan bahwa meski ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan pasca penyesuaian harga BBM non-subsidi, kondisi pasar secara umum masih terkendali dan belum mengkhawatirkan.
Bawang Bombai Naik Tertinggi
Komoditas yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah bawang bombay. Harga rata-rata bawang bombay naik sebesar Rp3.570 atau sekitar 10 persen, dari sebelumnya menjadi Rp31.689 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh menurunnya stok di tingkat pasar.
Selain itu, bawang putih jenis kating juga mengalami kenaikan cukup signifikan sebesar Rp2.000 atau sekitar 5 persen menjadi Rp38.933 per kilogram akibat pasokan yang mulai berkurang.
Sementara cabai rawit merah naik Rp1.733 atau sekitar 3 persen menjadi Rp67.500 per kilogram karena pasokan yang menurun di tengah tingginya permintaan masyarakat.
Harga bawang putih honan juga mengalami kenaikan sebesar Rp567 atau sekitar 1 persen menjadi Rp40.267 per kilogram. Berbeda dengan komoditas lainnya, kenaikan ini lebih banyak dipicu oleh meningkatnya permintaan konsumen.
Minyak goreng curah turut mengalami kenaikan meski relatif tipis, yakni sebesar Rp100 menjadi Rp20.611 per liter akibat meningkatnya permintaan pasar.
Cabai Merah Besar dan Udang Segar Turun
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga. Penurunan terbesar terjadi pada cabai merah besar yang turun Rp1.100 atau sekitar 2 persen menjadi Rp46.317 per kilogram. Penurunan ini didorong oleh meningkatnya pasokan ke pasar.
Komoditas perikanan, yakni udang segar, juga mengalami penurunan sebesar Rp1.000 atau sekitar 2 persen menjadi Rp54.833 per kilogram.
Cabai rawit hijau turun Rp633 menjadi Rp32.033 per kilogram karena permintaan yang melemah. Kondisi serupa terjadi pada kacang hijau yang turun Rp566 menjadi Rp29.389 per kilogram.
Harga cabai merah keriting juga terkoreksi Rp517 menjadi Rp55.650 per kilogram seiring membaiknya ketersediaan stok. Sementara tomat turun Rp500 menjadi Rp15.700 per kilogram akibat melimpahnya pasokan.
Beberapa komoditas lain yang mengalami penurunan harga antara lain ikan bandeng yang turun Rp367 menjadi Rp44.286 per kilogram. Kacang tanah turun Rp333 menjadi Rp37.056 per kilogram, bawang merah turun Rp283 menjadi Rp41.783 per kilogram, serta daging ayam ras yang turun Rp250 menjadi Rp39.450 per kilogram.
Adapun jeruk lokal dan kentang masing-masing turun tipis Rp125 dan Rp100 per kilogram. Minyak goreng premium juga mengalami koreksi kecil sebesar Rp25 menjadi Rp24.425 per liter.
Beras, Gula dan Telur Stabil
Meski terjadi fluktuasi pada sejumlah komoditas hortikultura, Disperindag NTB mencatat sebagian besar kebutuhan pokok strategis masyarakat masih berada dalam kondisi stabil.
Harga seluruh jenis beras, baik beras medium, premium maupun beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), tidak mengalami perubahan. Demikian pula harga daging sapi, telur ayam ras, gula pasir, serta tepung terigu yang masih bertahan pada level sebelumnya.
Kondisi diatas menunjukkan pasokan pangan utama di NTB masih cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk selama periode libur panjang dan pasca kenaikan harga BBM non-subsidi. (bul)

