BerandaHEADLINEKenaikan BBM dan Gejolak Global Dinilai Tak Terlalu Mengguncang NTB

Kenaikan BBM dan Gejolak Global Dinilai Tak Terlalu Mengguncang NTB

Mataram (Suara NTB) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), fluktuasi nilai tukar dolar AS, hingga gejolak harga minyak dunia dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap kondisi ekonomi NTB.

Struktur ekonomi daerah yang masih ditopang sektor pertanian menjadi faktor utama yang membuat daya tahan ekonomi masyarakat relatif kuat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Dr. Wahyudin, mengatakan mayoritas penduduk NTB masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kondisi ini berbeda dengan daerah perkotaan yang lebih bergantung pada sektor jasa dan perdagangan modern yang cenderung lebih sensitif terhadap gejolak ekonomi global.

“Kalau saya lihat untuk daerah kita, sebenarnya tidak terlalu banyak pengaruhnya dengan adanya kenaikan harga minyak dunia maupun pergerakan kurs dolar. Karena masyarakat kita umumnya bekerja di sektor pertanian,” ujarnya.

Pertanian Tumbuh di Atas 10 Persen

Menurut Wahyudin, sektor pertanian NTB saat ini menunjukkan performa yang sangat baik. Pertumbuhan sektor tersebut bahkan tercatat menembus dua digit dan menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Pertumbuhan tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi daerah, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

BPS mencatat lebih dari 35 persen penduduk yang bekerja di NTB berada di sektor pertanian. Karena itu, ketika sektor ini tumbuh positif, dampaknya langsung dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.
“Pertanian kita tumbuh luar biasa, lebih dari 10 persen. Ini menghidupi banyak masyarakat kita. Karena itu saya melihat dampak kenaikan BBM atau gejolak ekonomi global tidak terlalu besar terhadap masyarakat NTB,” katanya.

Selain pertanian, sektor perdagangan juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Kedua sektor tersebut menjadi penopang utama perekonomian daerah dan sumber penghidupan masyarakat.

“Kalau pertambangan memang besar kontribusinya terhadap ekonomi, tetapi yang paling banyak menghidupi masyarakat tetap pertanian dan perdagangan,” jelasnya.

Wahyudin menjelaskan daerah yang perekonomiannya didominasi sektor jasa biasanya lebih rentan terhadap perlambatan ekonomi. Penurunan jumlah wisatawan, berkurangnya aktivitas bisnis, maupun melemahnya daya beli akan cepat memengaruhi pendapatan masyarakat.

Sementara NTB masih memiliki karakter ekonomi agraris yang kuat. Karena itu, gejolak yang terjadi di sektor jasa tidak serta-merta berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat secara luas.

“Kalau di kota-kota besar yang bertumpu pada sektor jasa mungkin lebih terasa. Tapi NTB masih agraris. Sebagian besar masyarakat kita hidup dari lahan pertanian yang mereka kelola,” ujarnya.

Kemiskinan Terus Menurun

Optimisme terhadap kondisi ekonomi NTB juga tercermin dari tren penurunan angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Wahyudin mengungkapkan tingkat kemiskinan ekstrem di NTB saat ini sudah berada pada level yang sangat rendah, sekitar 0,04–0,05 persen. Capaian ini menunjukkan semakin sedikit penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan ekstrem berdasarkan standar internasional.

“Kalau kemiskinan ekstrem sekarang sangat kecil sekali. Itu menunjukkan kondisi masyarakat semakin membaik,” katanya.

Sementara untuk angka kemiskinan secara keseluruhan, BPS NTB akan merilis data terbaru pada Juli 2026. Sebagai perbandingan, angka kemiskinan NTB pada 2025 tercatat sebesar 11,38 persen.

Faktor lain yang memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat NTB adalah membaiknya harga sejumlah komoditas pertanian, terutama padi dan jagung.

Menurut Wahyudin, kenaikan harga hasil panen memberikan tambahan pendapatan bagi petani sekaligus menjadi insentif untuk terus meningkatkan produksi.

“Padi luar biasa, kemudian harganya juga naik. Jagung juga demikian. Artinya petani kita menikmati harga yang baik sehingga tetap bersemangat berproduksi,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar masyarakat pedesaan tidak terlalu terbebani oleh kenaikan BBM. Selain karena pendapatan pertanian yang membaik, mayoritas petani juga masih menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk aktivitas sehari-hari. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO