Mataram (Suara NTB) – Warga Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, meminta Pemerintah Kota Mataram mempertimbangkan secara matang pembangunan pompa perlintasan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPAL-DT) yang direncanakan berlokasi di Taman Jangkar Kota Toea Ampenan.
Salah seorang warga, Taufan, mengatakan rencana pembangunan fasilitas tersebut masih memunculkan beragam tanggapan di tengah masyarakat. Sebagian warga mendukung karena proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur kota, namun sebagian lainnya menyampaikan keberatan karena lokasi yang dipilih merupakan ruang terbuka hijau (RTH).
“Di masyarakat memang ada yang menerima dan ada juga yang tidak. Karena selama ini kawasan itu dimanfaatkan sebagai area penghijauan dan tempat menanam,” ujarnya, Rabu (24/6).
Meski demikian, Taufan menegaskan warga tidak mempermasalahkan apabila pemerintah tetap menetapkan Taman Jangkar sebagai lokasi pembangunan pompa perlintasan SPAL-DT. Namun, ia meminta pembangunan tersebut diikuti dengan penataan taman secara menyeluruh agar keberadaan fasilitas itu tidak mengurangi fungsi dan estetika kawasan.
Menurutnya, taman harus ditata sedemikian rupa sehingga masyarakat maupun pengunjung tetap merasa nyaman beraktivitas. Keberadaan pompa limbah, kata dia, tidak boleh menimbulkan kesan kumuh atau mengubah citra taman sebagai ruang publik yang bersih dan menarik.
“Masyarakat tentu mengetahui bahwa di sana ada fasilitas pompa limbah. Namun, kalau tamannya tidak diperbaiki dan ditata dengan baik, manfaatnya juga tidak akan maksimal. Karena itu perlu dipertimbangkan,” tegasnya.
Taufan menjelaskan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan rumah pompa tersebut tidak terlalu luas, yakni sekitar satu are di bagian utara taman. Karena itu, warga berharap area taman yang tersisa tetap dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung bagi masyarakat sehingga keberadaan bangunan pompa dapat menyatu dengan lingkungan sekitar.
“Jangan hanya membangun fasilitas pompa saja, tetapi taman tidak dibenahi. Penataan kawasan juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Selain itu, ia berharap masyarakat sekitar dilibatkan dalam proses pembangunan agar dapat mengetahui secara langsung tujuan dan manfaat proyek tersebut. Keterlibatan warga dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning, memastikan desain rumah pompa perlintasan SPAL-DT akan mengusung konsep ramah lingkungan dan menyatu dengan kawasan taman.
Menurutnya, bangunan tersebut tidak akan dibuat dengan tampilan yang mencolok ataupun menimbulkan kesan kumuh. Sebaliknya, desain yang diterapkan akan menyesuaikan karakter ruang terbuka hijau sehingga keberadaannya tidak mudah dikenali sebagai fasilitas pengelolaan limbah.
“Konsepnya dibuat menyatu dengan taman atau go green. Jadi bukan bangunan yang terkesan kumuh. Bahkan masyarakat tidak akan langsung mengira bahwa itu merupakan pompa perlintasan limbah,” jelasnya.
Lale menerangkan pembangunan pompa perlintasan di Taman Jangkar diperlukan untuk membantu memperlancar aliran limbah menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Tanjung Karang. Kondisi topografi di lokasi tersebut yang relatif lebih rendah membuat sistem memerlukan bantuan pompa agar aliran limbah dapat berjalan optimal.
Ia juga menegaskan rumah pompa tersebut tidak berfungsi sebagai tempat penampungan limbah. Fasilitas itu hanya berperan menyedot dan mendorong aliran limbah ke jaringan pipa yang selanjutnya mengarah ke lokasi pengolahan.
“Jadi bukan tempat penampungan limbah. Fungsinya hanya untuk memompa dan menyalurkan limbah ke jaringan pipa menuju lokasi pengolahan,” pungkasnya. (pan)

