BerandaEKONOMIDinamika MBG Bikin Penjualan Mobil Pikap Ikut Tertekan

Dinamika MBG Bikin Penjualan Mobil Pikap Ikut Tertekan

Mataram (Suara NTB) – Dinamika pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak terhadap penjualan kendaraan niaga ringan di Provinsi NTB. Pelaku usaha dapur penyedia makanan dan pemasok bahan baku terindikasi cenderung memilih menunda pembelian mobil pikap, sambil menunggu kejelasan program strategis pemerintah ini.


Branch Manager Suzuki Cakra Mobilindo, Edy Khairuddin, di Mataram, Selasa, 30 Juni 2026 mengatakan permintaan mobil pikap mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya.


Menurut Edy, secara keseluruhan pasar otomotif memang mengalami sedikit perlambatan. Namun, dampak paling terasa terjadi pada segmen mobil pikap kecil yang selama ini banyak digunakan pelaku usaha sebagai kendaraan operasional.


“Kalau secara total market memang ada turun sedikit. Tetapi untuk kelas mobil pikap kecil memang dampaknya cukup terasa. Salah satu penyebabnya karena gonjang-ganjing terkait MBG, sehingga banyak pelaku usaha dapur maupun supplier memilih menahan diri,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kondisi ini terlihat dari sejumlah konsumen yang sebenarnya telah melakukan pemesanan kendaraan. Namun, sebelum proses transaksi diselesaikan, mereka memutuskan menunda pembelian.


Menurut Edy, para pengusaha kini mengambil sikap wait and see sambil menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait implementasi Program MBG dan regulasi yang akan diterapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).


“Kasusnya sudah ada yang memesan unit, tetapi setelah diproses mereka meminta ditunda. Mereka memilih menunggu dulu kebijakan yang akan diberlakukan pemerintah dan pejabat BGN,” katanya.


Ia menjelaskan, pelaku usaha yang bergerak sebagai penyedia jasa katering maupun pemasok bahan pangan menjadi segmen yang paling terdampak. Ketidakpastian keberlanjutan kontrak usaha membuat mereka menahan ekspansi, termasuk investasi untuk membeli kendaraan operasional baru.


Selain memengaruhi penjualan kendaraan niaga, kondisi tersebut juga mencerminkan perlambatan aktivitas ekonomi di tingkat bawah. Menurut Edy, para supplier dan pelaku usaha dapur yang sebelumnya berharap memperoleh peluang usaha dari program MBG kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan belanja modal.


“Ekonomi di kalangan bawah, terutama supplier dapur, juga ikut terdampak. Mereka akhirnya memilih menunda pembelian kendaraan sampai situasi benar-benar jelas,” tambahnya.


Pelaku usaha otomotif berharap kepastian kebijakan pemerintah terkait pelaksanaan Program MBG segera terwujud. Dengan begitu, kepercayaan pelaku usaha diperkirakan akan kembali pulih sehingga investasi, termasuk pembelian kendaraan niaga untuk mendukung aktivitas usaha, dapat kembali meningkat. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO