Tanjung (Suara NTB) – Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) menyiapkan berbagai langkah untuk mewujudkan Lombok Utara sebagai produsen kurma masa depan di Indonesia. Usai menggelar deklarasi Peradaban Kurma awal tahun 2026 ini, Pemda menguatkan visi tersebut dengan membentuk Tim Percepatan pengembangan kurma.
“Pemda sedang membentuk Tim Percepatan untuk pengembangan Kurma sebagai tindak lanjut launching bulan Februari 2026 lalu. Timnya sudah disusun dan SK-nya sedang berproses di Bagian Hukum,” ungkap Kepala Bagian Administrasi dan Pembangunan, Setda KLU sekaligus Sekretaris Tim Percepatan Peradaban Kurma KLU, Nasli, S.Pd., M.Pd., Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, visi pengembangan Kurma di Lombok Utara akan dipusatkan pada Tim Percepatan yang sudah dibentuk. Pasalnya, tim ini terdiri dari praktisi yaitu Asosiasi Ukhuwah Datu Nusantara (UDAN) Lombok Utara, BRIN, OPD serta berbagai pihak terkait lainnya.
Pengembangan Kurma di Masyarakat KLU
Nasli yang juga Humas UDAN Lombok Utara menegaskan, pengembangan kurma di masyarakat akan mulai dilakukan seiring berjalannya tahapan yang dimulai dari pembentuk Tim Percepatan. Selanjutnya, Tim ini akan merancang konsep pengembangan Kurma untuk selanjutnya ditawarkan kepada investor dengan pola yang sudah berjalan yaitu pola Nyakap (kerja sama pemanfaatan lahan dengan pemilik).
“Untuk tahap awal, kita akan fokus pada demplot pengembangan Kurma di area seluas 2 hektare di Dusun Montongpal (Desa Rempek, kecamatan Gangga),” ujarnya.
Pada areal tersebut sedang dikembangkan budi daya kurma dengan pola Nyakap. Kurma-kurma tersebut didatangkan dari Lampung Tengah dalam keadaan sudah besar, yang melibatkan komitmen kerjasama antara pemilik modal, pemilik lahan serta UDAN Lombok Utara.
Pengembangan Kurma secara merakyat di Lombok Utara, menurut Nasli, bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Hanya saja, konsep tersebut butuh komitmen anggaran terutama untuk pengadaan bibit, maupun komitmen masyarakat untuk memelihara.
Dalam struktur Tim Percepatan sendiri, Nasli mengakui keterlibatan stakeholder mencakup OPD, asosiasi, perusahaan swasta, lembaga riset pemerintah hingga Aliansi Masyarakat Adat, memberi gambaran terhadap roadmap pengembangan Kurma dalam jangka panjang. “Masih harus dibahas, siapa berbuat apa, termasuk goalnya seperti apa. Yang jelas, pengembangan masih difokuskan dengan kemitraan Pola Nyakap,” tandasnya. (ari)

