Selong (Suara NTB) – Ancaman fenomena El Nino yang diprediksi memicu kemarau panjang tak menyurutkan langkah Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) dalam mengejar target produksi padi. Dinas Pertanian Lotim telah menyiapkan serangkaian strategi agresif untuk memastikan luasan tanam dan produksi tetap tercapai sepanjang tahun 2026.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, menjelaskan bahwa pihaknya memasang target luas tanam padi mencapai 62.000 hektare dalam satu tahun, dengan rata-rata produksi 7,2 ton gabah kering panen per hektare.
“Kami tidak tinggal diam. Meskipun ada dinamika kebiasaan petani dan tantangan iklim, kami mendongkrak frekuensi tanam. Lahan yang biasanya ditanam sekali, kami upayakan menjadi dua kali, bahkan yang dua kali menjadi tiga kali,” ujar Fathul, Jumat (3/7).
Untuk mendukung intensifikasi tersebut, Pemkab Lotim fokus pada pembangunan infrastruktur irigasi. Meliputi irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, optimalisasi lahan, serta perbaikan jaringan irigasi terbuka. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga ketersediaan air di tengah potensi kekeringan.
Dalam hal pengelolaan pupuk, pemerintah membedakan antara pupuk subsidi dan non-subsidi. Meskipun rekomendasi pemupukan telah tertuang dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), petani diizinkan menambahkan aplikasi pupuk non-subsidi guna memenuhi kebutuhan tanaman yang meningkat.
Pupuk Masih Cukup
Fathul menegaskan ketersediaan pupuk hingga saat ini masih sangat cukup. “Realisasi pupuk baru mencapai 35 persen dalam enam bulan terakhir, sehingga 65 persen sisanya kami pastikan aman hingga Desember. Kami pegang jargon ‘Pupuk mencari petani, bukan petani mencari pupuk’,” tegasnya.
Pemerintah juga menjamin stabilitas harga dengan menetapkan Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk padi dan jagung yang dinilai menjanjikan bagi petani. Komitmen pemenuhan kebutuhan pupuk setahun ke depan terus direncanakan dan ditingkatkan.
Menariknya, pemerintah tidak memonopoli tanaman padi. Petani diberi kebebasan menanam komoditas unggulan seperti tembakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi, asalkan sesuai regulasi. Untuk menjaga ketahanan pangan, dibuat perjanjian kemitraan—kelompok tani penerima bantuan sarana pompa atau irigasi diwajibkan menanam padi atau jagung dengan luasan minimal yang disepakati.
“Harapannya, komoditas unggulan dan tanaman pangan tetap berdampingan tanpa saling mengenyampingkan. Petani juga kami imbau menanam varietas tahan kekeringan untuk mengantisipasi El Nino,” pungkas Fathul. (rus)

