BerandaNTBLOMBOK BARATAgus Alwi, Sang Penjaga Mangrove di Sekotong Lombok Barat

Agus Alwi, Sang Penjaga Mangrove di Sekotong Lombok Barat

LOMBOK Barat adalah salah satu daerah yang memiliki hutan mangrove terluas di NTB. Dengan luas sekitar puluhan hektare, hutan mangrove yang membentang di pesisir Lembar dan Sekotong ini bukan hanya menjadi pelindung permukiman warga dari ombak dan angin kencang, tetapi menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat pesisir.


Di balik kelestarian Mangrove ini, ada sosok Agus Alwi yang berperan menjaga hutan mangrove di pesisir daerah tersebut. Ditemui di kawasan wisata Bagek Kembar Dusun Madak Desa Persiapan Empol, Agus Alwi menceritakan awal mula ia terjun mengembangkan mangrove sejak sembilan tahun lalu, persisnya pada awal 2017 lalu.


Berangkat dari kekhawatiran secara pribadi akan kondisi hutan mangrove yang kian terancam, menjadi motivasinya terjun ke dunia mangrove. Ia pun mulai membentuk komunitas pada awal 2017. Komunitas ini dibentuk sebagai tindaklanjut agar program rehabilitasi mangrove dari Kementerian tahun 2016 tetap berlanjut.


Ia tak ingin program ini terhenti begitu saja, karena seolah dianggap sebatas “proyek semata”sehingga begitu program tersebut selesai, tidak ada tindaklanjut di lapangan.
Waktu itu, dikembangkan rehabilitasi dengan menanam 120 bibit tanaman mangrove dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Setelah itu kami bentuk komunitas untuk melanjutkan program pemerintah ini,” ujarnya.


Suka duka pun dihadapi selama mengembangkan komunitas mangrove melibatkan masyarakat sekitar. Tantangannya waktu itu, semangat dan kesadaran warga yang masih minim. Tetapi itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus memberikan edukasi pada masyarakat. Lambat laun, upayanya sedikit membuahkan hasil. Kesadaran warga yang terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan, mulai tumbuh.


Hal itu bisa terlihat dari kebiasaan warga pesisir. Perusakan tanaman mangrove jauh berkurang dibanding dulu. “Alhamdulillah berkurang pengerusakan secara massal, itu sudah berkurang. Mungkin lebih kepada pemanfaatan pohon itu oleh masyarakat pesisir,” imbuhnya.
Program penanaman mangrove terus dilanjutkan, dari 120 ribu bibit dikembangkan lagi. Alhasil, hutan mangrove kian berkembang.


Berdasarkan Surat Keputusan (SK) tentang Kawasan Ekosistem Esensial, mangrove melonjak menjadi 86 hektare yang tersebar di kawasan Sekotong dan Lembar. Dengan luasan hutan mangrove mendominasi di Sekotong mencapai 50 hektare. “Jumlah tanaman mangrovenya bertambah mencapai ratusan ribu,” sebutnya.


Keterlibatan masyarakat pun meningkat dari awalnya beberapa orang, kini ketika ada ketika warga mau ikut terlibat.


Dari pengembangan Mangrove ini pun, tidak saja menjadi tempat pembibitan dan bibitnya dijual. Tetapi hutan mangrove itu menjadi obyek wisata edukasi. Di tempat itu dibuka wisata dinamakan Bagek Kembar, mengusung konsep wisata edukasi, menjadikan tempat pengembangan mangrove itu ramai dikunjungi untuk keperluan penelitian dari berbagai perguruan tinggi.


Peneliti dari berbagai perguruan tinggi, tidak saja dari dalam daerah, luar daerah, tetapi fakultas luar negeri pun berkunjung melakukan penelitian disini. “Alhamdulillah banyak yang berkunjung, penelitian di sini,” ujarnya.


Dari kunjungan itu pun pengelola mendapatkan hasil pemasukan. Ia menjual paket wisata edukasi kepada para pengunjung, sehingga dari hasil itu dipakai untuk mengembangkan lagi kawasan itu.
Pengunjung yang ingin berkunjung ke lokasi wisata itu, bisa mengorder atau booking untuk paket wisata yang disiapkan. Tiap Minggu, pengunjung yang berkunjung ke sana mencapai ratusan orang. “Tiap akhir pekan estimasinya ada ratusan orang,”sebutnya.


Manfaat yang lebih besar dirasakan masyarakat pesisir dengan pengembangan hutan mangrove, laut menjadi lebih bersih. Sehingga hasil laut berupa kepiting dan kerang serta lainnya meningkat. Sebab hutan mangrove itu menjadi habitat bagus bagi kepiting bakao dan kerang untuk tumbuh dan berkembang biak.


Agus pun menyelipkan pesan agar mangrove ini tiap berlanjut, dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya. “Tetap berlanjut, diwariskan kepada generasi yang akan datang,” harap dia. (her)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO