PEMERINTAH Kelurahan Cilinaya, Kecamatan Cakranegara, terus menggencarkan upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan kader posyandu, ketua RT, dan kepala lingkungan di seluruh wilayah kelurahan. Hasilnya, hingga Juli 2026 tidak ditemukan kasus DBD di Kelurahan Cilinaya.
Langkah antisipatif tersebut dilakukan menyusul musim kemarau yang disertai anomali cuaca berupa hujan yang masih sesekali turun. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, terutama pada bak mandi, tempat penampungan air, serta wadah-wadah yang dapat menampung genangan air.
Lurah Cilinaya, I Ketut Soemarta, mengatakan pihaknya telah membentuk tim PSN yang melibatkan seluruh kader posyandu, RT, dan kepala lingkungan untuk melakukan pemantauan sekaligus edukasi kepada masyarakat.
“Tim PSN di kelurahan melibatkan kader, RT, dan kepala lingkungan di masing-masing wilayah. Hingga pertengahan tahun ini, laporan kasus DBD di Kelurahan Cilinaya masih nihil,” ujarnya, Minggu (12/7).
Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima selama tiga bulan terakhir, tidak ada warga yang terkonfirmasi menderita DBD. Kondisi tersebut tidak terlepas dari upaya pencegahan yang dilakukan secara rutin, baik melalui kegiatan PSN maupun meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Ia mengakui, pada 2025 Kelurahan Cilinaya masih mencatat sejumlah kasus DBD. Meski jumlahnya tidak banyak, pemerintah kelurahan tetap menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat langkah pencegahan.
“Tahun sebelumnya memang ada kasus, tetapi jumlahnya tidak sampai 10 orang,” jelasnya.
Dari sembilan lingkungan yang ada di Kelurahan Cilinaya, Lingkungan Karang Tapen dinilai paling berpotensi mengalami kasus DBD. Selain memiliki jumlah penduduk sekitar 2.600 jiwa, kawasan tersebut juga memiliki tingkat kepadatan permukiman yang cukup tinggi sehingga berisiko menjadi lokasi penyebaran penyakit.
Meski demikian, tim PSN terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membiarkan wadah-wadah bekas, seperti botol, kaleng, maupun barang lainnya, menjadi tempat penampungan air yang dapat menjadi sarang nyamuk.
Selain itu, Soemarta menilai Program Tempah Dedoro turut memberikan dampak positif terhadap kebersihan lingkungan. Melalui program tersebut, masyarakat didorong memilah sampah organik dan anorganik sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan potensi munculnya tempat berkembang biak nyamuk dapat diminimalkan.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur Tempah Dedoro di Kelurahan Cilinaya hingga saat ini telah mencapai 90 unit yang tersebar di sembilan lingkungan. Dengan demikian, setiap lingkungan memiliki sekitar 10 unit Tempah Dedoro sebagai sarana pendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (pan)

